Santunan DHIBRA 2026 mencatat penyaluran sekitar Rp2 miliar di sejumlah daerah, sementara laporan dari wilayah lain masih terus dihimpun.
Santunan DHIBRA 2026 memasuki pelaksanaan ke-22 dengan jangkauan kegiatan yang semakin luas. Tahun ini, agenda sosial tersebut berlangsung di sekitar 24 provinsi.
Selain provinsi, pelaksanaan mencakup 161 kabupaten/kota serta perwakilan di Malaysia dan Australia. Berdasarkan laporan sementara, dana yang sudah tersalurkan mencapai Rp2 miliar.
Namun, angka itu belum menjadi jumlah akhir. Laporan dari daerah masih masuk ke pusat sehingga nilai penyaluran dapat terus bertambah.
Update Santunan DHIBRA 2026 dan Jangkauannya
Di Jombang, panitia memusatkan kegiatan di Hotel Yusro. Sebanyak 426 kaum dhuafa dan yatim piatu menerima paket santunan pada pelaksanaan tersebut.
Setiap penerima memperoleh paket senilai Rp335 ribu berupa uang dan sembako. Total bantuan di Jombang mencapai Rp142,71 juta.
Dalam praktiknya, sumber dana berasal dari warga Thoriqoh Shiddiqiyyah dan para donatur. Ibu Nyai Shofwatul Ummah menyebut dana tersebut disalurkan kepada pihak yang berhak.
Catatan 22 Tahun Santunan DHIBRA

Lebih jauh, pelaksanaan tahun 2026 melanjutkan program yang sudah berjalan sejak 2006. Selama 21 periode hingga 2025, DHIBRA telah menyalurkan sekitar Rp52,69 miliar.
Sebaliknya, jumlah penerima mencapai 25.051 orang pada periode ke-17 tahun 2021. Pada periode ke-21 tahun 2025, jumlah penerima tercatat 17.587 orang.
Sementara itu, nilai santunan pada 2025 mencapai sekitar Rp3,36 miliar. Data tersebut menjadi pembanding bagi pelaksanaan Santunan DHIBRA 2026.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Jombang memberikan apresiasi terhadap peran DHIBRA. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Jombang, Drs. Purwanto, M.K.P., menilai organisasi tersebut membantu pemerintah.
Menurut Purwanto, bantuan kepada kaum dhuafa dan yatim piatu ikut mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Yang menarik, pesan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, turut mewarnai pelaksanaan. Ia mengingatkan agar manusia tidak mengejar kekayaan hanya untuk kepentingan pribadi.
Ia menegaskan bahwa agama tidak melarang seseorang menjadi kaya. Namun, kekayaan tidak semestinya membuat seseorang melupakan kepedulian kepada sesama.
“Kaya silakan, tapi jangan untuk memperkaya diri sendiri,” pesan beliau.
Selanjutnya, Sang Mursyid mengaitkan momentum Maulid Nabi Muchammad SAW dengan bulan kemerdekaan Indonesia dan berdirinya NKRI.
Ia juga menyampaikan panca harapan agar organisasi di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah menjadi organisasi yang bermanfaat, menghormati perbedaan, rendah hati, berbicara berdasarkan fakta, dan terus lestari.
