Mendagri Tito Karnavian mengungkapkan mayoritas korban meninggal di pengungsian gempa NTT adalah lansia dengan penyakit kronis. Pemerintah janjikan evaluasi penanganan.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan bahwa mayoritas korban meninggal di pengungsian pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan warga lanjut usia yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti stroke dan diabetes melitus.
Berdasarkan hasil verifikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Kementerian Kesehatan, tercatat 94 warga meninggal dunia saat berada di pengungsian, di luar 48 korban yang meninggal akibat dampak langsung gempa, sehingga total korban meninggal terkait bencana ini mencapai 142 orang.
Penyebab Kematian Korban Pengungsian NTT Masih Didalami
Tito mengatakan penyebab kematian para pengungsi tersebut masih perlu diperiksa lebih lanjut untuk memastikan apakah berkaitan dengan kondisi kesehatan, usia, atau faktor penanganan selama berada di lokasi pengungsian.
"Kalau ada yang meninggal, kita lihat penyebabnya apa dulu. Penyebabnya karena memang sakit ataukah karena memang usia ya. Kita perjelas. Kalau ada hal karena kurang treatment, yang kurang layak, ya ini jadi bagian evaluasi. Saya pasti akan menyampaikan kepada pemda-nya manfaatkan anggaran yang ada," ujarnya di Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Rabu (30/9).
Tito menegaskan penanganan pengungsi saat ini dikoordinasikan oleh BNPB bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, dengan keterlibatan Kementerian Kesehatan dalam penanganan medis para korban.
"Saya akan cek ini sebelum saya jawab, daripada saya ngarang-ngarang jawab. Ini sebagai masukan nanti karena sebetulnya sudah sedang dikendalikan oleh BNPB di lapangan dan yang mengkoordinasikannya Menko PMK. Itu struktural, bukan mendagri," kata Tito.
Tambahan Anggaran BTT untuk Pemda Terdampak
Untuk mendukung penanganan di tingkat daerah, pemerintah telah menyiapkan tambahan anggaran belanja tak terduga (BTT) sebesar Rp20 miliar untuk setiap kabupaten/kota terdampak, serta Rp40 miliar untuk pemerintah provinsi.
"Kepala daerah selama ini kan sudah diberikan bantuan. Tambahan BTT masing-masing Rp20 miliar untuk kabupaten kota dan Rp40 miliar (untuk) provinsi," kata Tito.
Sebelumnya, anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian, meminta evaluasi menyeluruh terhadap perlindungan dan pelayanan kesehatan bagi warga selama berada di pengungsian pascagempa Flores. Hetifah menilai temuan bahwa mayoritas korban meninggal adalah lansia dengan penyakit kronis perlu menjadi bahan evaluasi, termasuk dari sisi ketersediaan obat, layanan kesehatan, dan perlindungan bagi kelompok rentan.
Tito memastikan akan meminta penjelasan kepada pemerintah daerah terkait kondisi dan penanganan para korban selama berada di pengungsian, sebelum memberikan kesimpulan resmi mengenai kaitan penyebab kematian dengan kualitas layanan di lapangan.