Mancanegara

Shokuiku Jepang: Siswa Belajar Gizi, Anti Sisa Makanan

Shokuiku Jepang mengajarkan siswa soal asal makanan, gizi, dan limbah pangan lewat kyushoku. Guru ikut makan menu yang sama dengan siswa.
Shokuiku Jepang mengajarkan siswa soal asal makanan, gizi, dan limbah pangan lewat kyushoku. Guru ikut makan menu yang sama dengan siswa.

Shokuiku Jepang menjadikan makan siang sekolah sebagai ruang belajar tentang gizi, asal pangan, dan kebersihan. Siswa tidak hanya diberi tahu makanan apa yang sehat, tetapi juga dilibatkan langsung dalam menyajikan dan membersihkan.

Shokuiku berarti pendidikan tentang makanan dan gizi, dan kyushoku berkaitan erat dengannya. Melalui shokuiku, siswa mempelajari asal makanan, proses produksi, distribusi, budaya kuliner, hingga pentingnya mengurangi limbah makanan.

Shokuiku Jepang Terhubung dengan Pelajaran Kelas

Makanan dihubungkan dengan materi di kelas. Ketika siswa mempelajari sayuran musiman dalam pelajaran sains, bahan tersebut dapat muncul dalam menu makan siang. Dengan cara itu, siswa melihat hubungan antara materi pelajaran dan kehidupan sehari-hari. Informasi kandungan nutrisi menu juga dibahas bersama guru, sementara masakan daerah dan hidangan internasional dipakai untuk memperluas wawasan kuliner.

Bahan pangan lokal juga digunakan di sejumlah sekolah agar siswa mengenal hasil pertanian di daerah mereka. Salah satu kajian mencatat sekitar 56 persen pembelian makanan sekolah Jepang pada 2021 berasal dari sumber lokal. Penggunaan bahan lokal itu mencerminkan filosofi dari ladang ke meja.

Peran Siswa dalam Kyushoku-Toban

Kelompok siswa yang mendapat giliran menyajikan makanan disebut kyushoku-toban. Mereka mengenakan celemek, topi, dan masker, mengambil makanan dari tempat distribusi, lalu membagikannya kepada teman sekelas. Tugas ini dilakukan bergiliran sehingga setiap siswa mendapat kesempatan. Kegiatan tersebut mengajarkan cara menghidangkan makanan secara higienis, melayani orang lain dengan penuh perhatian, serta nilai tanggung jawab, keadilan, dan penghargaan kepada orang yang menyiapkan makanan.

Setelah makan bersama, siswa bekerja sama membersihkan kelas. Guru menyantap menu yang sama sehingga tidak ada menu guru yang terpisah, kebiasaan yang memperkuat rasa kebersamaan dan kesetaraan. Siswa juga diajarkan untuk tidak menyisakan makanan dan memahami dampak pemborosan terhadap lingkungan.

Tantangan Alergi dan Kebutuhan Keagamaan

Sistem ini tidak lepas dari masalah. Salah satu tantangannya adalah memenuhi kebutuhan siswa dengan alergi makanan atau kondisi kesehatan tertentu. Sekolah dapat menyediakan makanan tanpa bahan pemicu alergi, tetapi kemampuan tiap sekolah berbeda sehingga kebutuhan anak perlu dibicarakan dengan pihak sekolah.

Kebutuhan berdasarkan agama atau pilihan tertentu juga menjadi tantangan di sebagian sekolah negeri. Pilihan seperti halal, kosher, vegetarian, dan vegan belum selalu dapat dipenuhi, sehingga siswa dalam kondisi tertentu boleh membawa bekal dari rumah.

Meski menghadapi tantangan, shokuiku Jepang lewat kyushoku menunjukkan bahwa makan siang sekolah dapat menggabungkan pemenuhan gizi dengan pendidikan, dari pemilihan makanan hingga tanggung jawab terhadap limbah.