YOGYAKARTA, 26 Agustus 2026 — Di tengah hiruk-pikuk Festival Teater Dosen Indonesia (FTDI) 2026 yang berlangsung di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, satu pertunjukan mengajak penonton berhenti sejenak dan bertanya: seberapa rumit sebenarnya hidup yang kita jalani hari ini?
Ab Asmarandana, dosen sekaligus seniman dari Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, membawa karyanya “Cara Menjadi Sederhana” ke Theater Arena ISI Yogyakarta pada Rabu (26/8/2026) pukul 21.00 WIB. Judulnya terdengar sederhana, namun isinya justru membongkar ironi besar dalam kehidupan manusia modern.
Karya ini berangkat dari hal-hal yang tampak sepele dalam keseharian. Namun, dari situ, pertanyaan yang lebih besar perlahan muncul: mengapa sesuatu yang semestinya dekat dan mudah justru menjadi rumit ketika manusia terlalu bergantung pada aturan, prosedur, dan berbagai perangkat yang mereka ciptakan sendiri?
Ab Asmarandana memilih bahasa teater absurd dan pendekatan metateater untuk menyampaikan gagasan tersebut. Benda-benda sederhana, tindakan kecil, hingga situasi yang biasanya luput dari perhatian, diangkat menjadi bahan refleksi di atas panggung. Pendekatan ini membuat penonton diajak melihat kembali hal-hal yang selama ini dianggap remeh, namun ternyata menyimpan pertanyaan mendalam tentang cara manusia menjalani hidup.
Kehadiran karya ini di FTDI juga memperlihatkan bagaimana seorang dosen dapat melampaui perannya di ruang kelas. Melalui panggung, gagasan akademik tidak lagi berhenti sebagai teori, melainkan diuji langsung lewat tubuh, ritme, dan hubungan dengan penonton.
“Cara Menjadi Sederhana” menjadi salah satu warna dalam rangkaian FTDI 2026, festival yang mengusung tema “Panggung Gagasan dalam Estetika Akademik” dan mempertemukan karya-karya dosen teater dari berbagai perguruan tinggi seni di Indonesia.
Bagi Ab Asmarandana, panggung bukan sekadar tempat pentas, melainkan ruang untuk membuktikan bahwa gagasan bukan hanya harus bisa dijelaskan, tetapi juga harus mampu hidup dan bernapas di hadapan penonton.
