NAZA meraih standing ovation 24,5 menit setelah tayang di Venice 2026. Dokumenter karya Yuval Abraham dan Rachel Szor itu menjadi sorotan lewat wawancara 24 anggota intelijen Israel.
NAZA meraih standing ovation 24,5 menit dalam Festival Film Venice 2026. Sambutan tersebut memperbarui catatan tepuk tangan terpanjang sepanjang sejarah festival.
Rekor itu sebelumnya berada di tangan The Voice of Hind Rajab dengan durasi 22 menit pada 2025. Tahun ini, NAZA juga mengungguli Bunker yang mencatat 16 menit 30 detik.
Dengan capaian tersebut, perhatian terhadap NAZA tidak hanya datang dari tema yang diangkat. Respons penonton setelah pemutaran perdana ikut menjadi berita utama festival.
NAZA Soroti 24 Perwira Intelijen Israel
Yang menarik, dokumenter ini mengambil pendekatan melalui wawancara dengan 24 perwira dan prajurit intelijen militer Israel.
Tim produksi mengerjakan film secara rahasia dari atap bangunan di Tel Aviv. Proses produksinya berlangsung selama tiga tahun bersama The Guardian dan produser James Wilson.
Film tersebut membahas sistem di balik serangan militer Israel di Jalur Gaza. Istilah NAZA merujuk pada akronim internal intelijen Israel terkait proyeksi korban sipil.
Di sisi lain, Yuval Abraham menggunakan posisinya sebagai warga Israel untuk membedah institusi militer negaranya.
Ia mengaitkan langkah tersebut dengan kritik sejumlah lembaga hak asasi manusia internasional terhadap operasi militer Israel di Gaza.
Masuk Kompetisi Utama Secara Susulan
Sementara itu, posisi NAZA di Venice 2026 juga menarik perhatian karena film tersebut masuk kompetisi utama secara susulan.
Panitia memasukkannya sekitar satu bulan setelah pengumuman resmi festival. Saat itu, tim produksi baru menyelesaikan tahap akhir penyuntingan menjelang pembukaan.
NAZA kemudian menjadi satu-satunya film dokumenter yang menembus kompetisi utama Venice tahun ini.
Selanjutnya, respons penonton semakin memperkuat posisi film tersebut dalam pemberitaan festival. Jonathan Glazer, produser eksekutif sekaligus sutradara pemenang Oscar, turut hadir dalam momen tersebut.
Ia memeluk Abraham dan Szor ketika penonton memberikan apresiasi panjang. Glazer juga membentangkan bendera Palestina di tengah suasana emosional.
Tak hanya itu, capaian NAZA mempertemukan isu politik, dokumenter investigatif, dan respons festival dalam satu momentum. Film tersebut menjadi karya terbaru Abraham dan Szor setelah No Other Land.
Abraham sebelumnya meraih Oscar 2025 melalui No Other Land. Kini, NAZA kembali menempatkan duo tersebut dalam perhatian internasional melalui kompetisi Venice.
