Selat HormuzAS - Iran Dinilai Masih Sulit Capai Kesepakatan Selat Hormuz

Bahasa Kita – Peluang kesepakatan antara AS – Iran terkait situasi Selat Hormuz dinilai masih belum pasti. Penasihat Diplomatik Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, menyebut kemungkinan tercapainya kesepakatan saat ini berada di angka “50:50”.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir. Gargash menilai konflik baru antara Amerika Serikat dan Iran hanya akan memperburuk kondisi geopolitik yang sudah memanas.

Negosiasi yang hanya bertujuan mencapai gencatan senjata tetapi menanam bibit konflik baru bukanlah hal yang kami inginkan,” kata Gargash seperti dikutip Gulf News, Sabtu (23/5).

Di sisi lain, UEA juga menegaskan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka sebagai jalur pelayaran internasional utama.

UEA Soroti Ketegangan AS – Iran di Selat Hormuz

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam jalur perdagangan energi global. Jalur laut tersebut selama ini menjadi rute utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju berbagai negara di dunia.

Dalam konteks tersebut, meningkatnya ketegangan AS – Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional.

Gargash mengatakan Iran selama ini dinilai kerap kehilangan peluang diplomatik karena terlalu percaya diri dalam menghadapi negosiasi internasional.

Para pejabat Iran telah kehilangan banyak peluang selama bertahun-tahun karena kecenderungan mereka melebih-lebihkan kartu yang mereka miliki. Saya berharap mereka tidak melakukan itu kali ini,” ujarnya.

Yang jadi sorotan, Iran disebut telah menutup Selat Hormuz secara efektif sejak konflik meningkat pada akhir Februari lalu.

Hal tersebut terjadi setelah Teheran mengumumkan pembentukan badan khusus untuk mengelola jalur laut strategis tersebut.

Dalam praktiknya, kondisi itu memunculkan kekhawatiran baru terhadap aktivitas pelayaran internasional dan distribusi energi global.

Program Nuklir Iran Jadi Perhatian Utama UEA

Selain soal jalur pelayaran, program nuklir Iran kini menjadi perhatian utama pemerintah UEA.

Menurut Gargash, Abu Dhabi semakin khawatir terhadap kemampuan militer Teheran setelah konflik yang berlangsung sejak akhir Februari.

Program nuklir Iran dulu menjadi perhatian kedua atau ketiga kami. Hari ini itu menjadi perhatian utama kami,” kata Gargash.

Ia juga menuding Iran siap menggunakan seluruh kemampuan persenjataan yang dimiliki dalam konflik kawasan.

Kami melihat Iran mampu menggunakan senjata apa pun yang mereka miliki, dan ini adalah sesuatu yang sudah kami alami,” lanjutnya.

Pada sisi yang sama, meningkatnya kemampuan militer Iran membuat negara-negara kawasan semakin waspada terhadap potensi konflik berkepanjangan.

Secara faktual, ketegangan AS – Iran dalam beberapa bulan terakhir turut memengaruhi kondisi keamanan di Timur Tengah.

UEA Klaim Jadi Sasaran Ribuan Drone dan Rudal

Gargash juga mengungkapkan UEA menjadi sasaran sekitar 3.300 drone dan rudal selama 40 hari pertama perang yang dimulai pada 28 Februari lalu.

Meski begitu, menurutnya hanya sekitar empat persen serangan yang berhasil menembus sistem pertahanan udara UEA.

Yang menarik, angka tersebut menunjukkan tingginya intensitas konflik yang terjadi di kawasan dalam waktu singkat.

Tak hanya berdampak pada keamanan regional, situasi tersebut juga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Selat Hormuz sendiri memiliki peran vital dalam perdagangan minyak dunia. Karena itu, setiap peningkatan ketegangan di wilayah tersebut kerap memicu kekhawatiran pasar internasional terhadap gangguan pasokan energi dan fluktuasi ekonomi global.