lebanon diserang israelLebanon Digempur Israel, Serangan Hantam Lebih dari 30 Lokasi

Bahasa Kita – Lebanon kembali menjadi sasaran serangan besar-besaran militer Israel pada Minggu, 24 Mei 2026. Gempuran udara dilaporkan menghantam lebih dari 30 titik di wilayah Lebanon selatan dan timur di tengah harapan perpanjangan gencatan senjata antara kedua pihak.

Kantor Berita Nasional resmi Lebanon melaporkan serangan terjadi di sejumlah kawasan strategis yang selama ini menjadi titik ketegangan antara Israel dan Hizbullah.

Akibat serangan tersebut, sedikitnya dua orang dilaporkan meninggal dunia. Di sisi lain, badan pertahanan sipil Lebanon menyebut fasilitas regional di Nabatieh mengalami kehancuran akibat bombardir yang berlangsung.

Dalam perkembangan terbaru, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat total korban jiwa akibat serangan Israel sejak konflik meningkat telah mencapai 3.123 orang.

Serangan Israel Terus Berlanjut Meski Ada Gencatan Senjata

Militer Israel diketahui masih terus melakukan operasi militer terhadap target yang disebut berkaitan dengan Hizbullah meski kesepakatan gencatan senjata telah dimulai sejak 17 April 2026.

Kesepakatan tersebut bahkan dilaporkan sempat diperpanjang. Namun pada kenyataannya, serangan udara dan operasi militer lintas perbatasan tetap berlangsung hingga akhir Mei.

Sehari sebelum serangan terbaru, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan terdapat 11 korban tewas di dekat Gedung Sir al-Gharbiyeh.

Korban disebut mencakup perempuan dan anak-anak.

Dalam konteks tersebut, situasi keamanan di Lebanon selatan masih jauh dari stabil. Ketegangan terus meningkat seiring serangan balasan yang dilakukan kedua pihak.

Kelompok Hizbullah yang didukung Iran disebut masih terus menyerang pasukan Israel yang berada di Lebanon selatan serta sejumlah target di wilayah perbatasan.

Yang jadi sorotan, eskalasi konflik terus berlangsung di tengah upaya diplomatik untuk memperpanjang penghentian sementara pertempuran.

Konflik Lebanon Memanas Setelah Kematian Ayatollah Khamenei

Lebanon mulai terseret lebih jauh ke dalam konflik regional setelah Hizbullah melancarkan serangan ke Israel menyusul kabar kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Peristiwa tersebut memicu peningkatan serangan militer Israel ke sejumlah wilayah Lebanon.

Di waktu yang sama, pemerintah Israel menegaskan akan terus melakukan operasi militer untuk menghilangkan ancaman terhadap negaranya.

“Kami terus menyerang Hizbullah di semua dimensi keamanan warga sipil dan keselamatan pasukan kami tetap menjadi prioritas utama,” kata Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Israel belum menunjukkan tanda akan menghentikan operasi militernya di Lebanon dalam waktu dekat.

Tak hanya itu, serangan udara yang meluas ke berbagai wilayah juga mempertegas meningkatnya intensitas konflik lintas perbatasan.

Lebanon dan Israel Siapkan Pembicaraan Baru

Di tengah serangan dan ancaman gempuran lanjutan, pemerintah Lebanon disebut mulai membuka jalur komunikasi dengan Israel di bawah pengawasan Amerika Serikat.

Laporan yang beredar menyebut kedua pihak tengah mempersiapkan putaran pembicaraan keempat yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang.

Meski begitu, belum ada kepastian apakah proses diplomasi tersebut mampu menghentikan rangkaian serangan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Dalam praktiknya, kondisi di Lebanon masih berada dalam tekanan besar akibat serangan udara yang terus terjadi di sejumlah wilayah.

Dampaknya terasa pada fasilitas sipil dan infrastruktur yang ikut terdampak serangan.

Sementara itu, masyarakat di wilayah selatan Lebanon masih menghadapi situasi keamanan yang tidak menentu seiring meningkatnya aktivitas militer di kawasan perbatasan.