Bahasa Kita – Konflik Israel-Lebanon kembali memanas setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan perluasan operasi darat ke wilayah Lebanon selatan.
Keputusan itu diumumkan meski gencatan senjata antara kedua pihak telah berlangsung lebih dari enam pekan.
Langkah terbaru Israel memicu kekhawatiran internasional terhadap potensi meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan pada Minggu 31 Mei 2026, Netanyahu menegaskan militernya diminta memperdalam operasi di Lebanon.
“Saya menginstruksikan militer untuk memperluas manuver daratnya di Lebanon,” kata Netanyahu.
Konflik Israel-Lebanon sendiri terus berkembang sejak Hizbullah meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel pada 2 Maret lalu sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.
Israel Kuasai Kastel Beaufort di Lebanon Selatan
Dalam perkembangan terbaru, militer Israel mengklaim berhasil merebut Kastel Beaufort yang berusia sekitar 900 tahun.
Lokasi bersejarah tersebut berada di kawasan strategis Lebanon selatan. Penguasaan titik itu memberi keuntungan militer karena berada di dataran tinggi.
Dari lokasi tersebut, pasukan Israel dapat memantau sebagian besar wilayah Lebanon selatan dan Israel utara.
Militer Israel menyebut operasi difokuskan untuk menguasai Beaufort Ridge serta wilayah Wadi al-Saluki.
Dalam praktiknya, operasi itu juga ditujukan untuk melemahkan kemampuan tempur Hizbullah dan menghancurkan infrastruktur kelompok tersebut.
Satu tentara Israel dilaporkan tewas selama operasi berlangsung.
Yang jadi sorotan, ini merupakan pertama kalinya Israel kembali menguasai Kastel Beaufort sejak penarikan pasukan dari Lebanon selatan pada Mei 2000.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memastikan pasukannya akan tetap bertahan di kawasan tersebut.
“Kampanye ini belum berakhir. Kita semua bertekad menghancurkan kekuatan Hizbullah,” kata Katz.
Katz bahkan membagikan foto Kastel Beaufort yang dipasangi bendera Israel dan Brigade Golani melalui media sosial.
Konflik Israel-Lebanon Picu Gelombang Pengungsian
Perang yang terus berlangsung membuat situasi kemanusiaan di Lebanon semakin memburuk.
Menurut pemerintah Lebanon, sedikitnya 3.370 orang tewas akibat operasi militer Israel.
Sementara itu, Israel menyatakan 24 tentaranya dan empat warga sipil tewas sejak konflik meningkat.
Di sisi lain, lebih dari 1,2 juta warga Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan udara dan perintah evakuasi.
Puluhan ribu warga Israel di wilayah utara juga mengungsi karena serangan roket dan drone Hizbullah.
Sepanjang Minggu, sumber keamanan Lebanon melaporkan lebih dari 40 serangan Israel terjadi di wilayah Lebanon selatan.
Menurut kantor berita pemerintah Lebanon, delapan orang tewas setelah serangan udara menghantam Desa Deir El Zahrani pada Sabtu malam.
Hizbullah Gunakan Drone Bunuh Diri Murah
Dalam perkembangan selanjutnya, Hizbullah disebut semakin intens menggunakan drone bunuh diri berbiaya murah.
Drone tersebut dinilai sulit dicegat sistem pertahanan udara Israel meski dibuat dengan teknologi sederhana.
Menurut laporan militer Israel, sejumlah tentara tewas akibat serangan drone Hizbullah di Lebanon selatan.
Pada saat bersamaan, pasukan Israel juga bergerak lebih jauh ke utara menuju Sungai Zaharani.
Sebelumnya, Israel telah menguasai wilayah hingga Sungai Litani.
Netanyahu mengatakan operasi dilakukan untuk memperluas kendali di kawasan yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Hizbullah.
“Memperdalam dan memperluas cengkeraman kami di tempat-tempat yang sebelumnya berada di bawah kendali Hizbullah,” ujar Netanyahu.
Prancis Minta PBB Gelar Pertemuan Darurat
Meningkatnya intensitas konflik Israel-Lebanon membuat Prancis meminta Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat.
Kementerian Luar Negeri Prancis menyebut langkah itu diambil karena kekhawatiran terhadap eskalasi kekerasan.
Permintaan tersebut muncul beberapa hari setelah Amerika Serikat mempertemukan pejabat pertahanan Israel dan Lebanon di Washington.
Pertemuan itu membahas upaya perdamaian serta pelucutan senjata Hizbullah.
Padahal pada 15 Mei lalu, kedua pihak telah menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 45 hari.
Namun pada kenyataannya, situasi di perbatasan Israel-Lebanon kembali memanas dalam beberapa hari terakhir.
