Perdebatan kelahiran Soekarno kembali mengemuka setelah Pemerintah Kota Surabaya memasukkan hasil riset ke materi pembelajaran sekolah. Di sisi lain, pegiat sejarah dari Ploso meminta seluruh arsip tetap diuji secara terbuka sebelum narasi sejarah dianggap final.
Rencana Pemerintah Kota Surabaya menjadikan buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo sebagai materi pembelajaran memunculkan kembali diskusi mengenai lokasi kelahiran Presiden Pertama RI Soekarno.
Berbeda dengan kesimpulan penelitian Pemerintah Kota Surabaya, kalangan pegiat sejarah di Ploso, Kabupaten Jombang, tetap mempertahankan pandangan bahwa sejumlah dokumen masih mengarah pada wilayah tersebut.
Ploso Menyajikan Dokumen Pembanding
Pegiat sejarah Binhad Nurrohmat menyampaikan kritik terhadap sejumlah bagian dalam buku terbitan Pemerintah Kota Surabaya. Selain itu, ia menerbitkan buku Titik Nol Soekarno—Ploso 1902: Awal Riwayat Bapak Bangsa Indonesia sebagai hasil penelitian tandingan.
Buku tersebut memuat observasi lapangan, kajian literatur, arsip, dokumen keluarga, hingga jejak pendidikan yang menurutnya memperlihatkan hubungan kuat antara Soekarno dan Ploso.
Yang menjadi sorotan, Binhad menilai penyebutan “Soerabaja” dalam dokumen kolonial belum tentu merujuk pada Kota Surabaya seperti batas administrasi saat ini.
Perbedaan Tafsir Dokumen Kolonial
Salah satu dokumen yang diperdebatkan ialah besluit mutasi Raden Soekemi tertanggal 28 Desember 1901. Dokumen tersebut mencatat penugasan di “School der 2de Klasse te Ploso (Soerabaja)”.
Menurut Binhad, istilah Soerabaja pada masa kolonial mengacu kepada wilayah keresidenan, bukan Kota Surabaya dalam pengertian administrasi modern.
Karena itu, ia menilai interpretasi terhadap arsip kolonial perlu mempertimbangkan konteks pemerintahan pada masa tersebut.
Belum Ada Penetapan Resmi
Sementara itu, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Jombang Nasrul Ilah menyatakan berbagai kegiatan bedah sejarah menjadi bagian dari dukungan terhadap proses pengajuan situs kelahiran Soekarno di Ploso sebagai cagar budaya.
Namun hingga kini, pemerintah belum menetapkan secara resmi Ploso sebagai lokasi kelahiran Soekarno.
Di sisi lain, belum adanya keputusan resmi juga tidak menutup ruang bagi penelitian lanjutan maupun pengujian terhadap arsip yang digunakan kedua pihak.
Ruang Akademik Tetap Terbuka
Masuknya buku hasil riset Surabaya ke lingkungan sekolah membuat pembahasan sejarah semakin mendapat perhatian. Meski begitu, sejumlah pegiat sejarah berharap proses akademik tetap berjalan terbuka.
Pengujian terhadap arsip mencakup waktu penyusunan dokumen, konteks administrasi kolonial, kedekatan sumber dengan peristiwa, serta keaslian dokumen yang digunakan sebagai dasar penelitian.
Dengan demikian, perbedaan pandangan mengenai lokasi kelahiran Soekarno tetap berada dalam ruang kajian sejarah yang dapat diuji menggunakan bukti dan arsip.
