Harga minyak dunia melonjak lebih dari 7 persen setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan ini mendorong harga Brent mendekati USD90 per barel dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait dugaan serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Situasi tersebut langsung memicu reaksi pasar energi internasional.
Trump menyatakan Iran akan menghadapi respons tegas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) diduga meluncurkan rudal balistik yang menargetkan pasukan Amerika Serikat. Pernyataan itu kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan.
Akibatnya, harga minyak Brent melonjak lebih dari 7 persen hingga diperdagangkan di sekitar USD90 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), naik sekitar 7 persen menjadi USD84,60 per barel.
Ketegangan Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan seluruh rudal yang diluncurkan berhasil dicegat. Meski begitu, laporan mengenai serangan yang menyasar pangkalan militer AS di Yordania tetap meningkatkan kekhawatiran pasar.
Sebelumnya, pelaku pasar sempat berharap konflik di Timur Tengah mereda sehingga harga minyak bergerak melemah pada awal pekan. Namun, perkembangan terbaru mengubah sentimen tersebut secara signifikan.
Selain itu, meningkatnya aktivitas kelompok yang didukung Iran, termasuk serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi, turut memperbesar risiko gangguan pasokan energi.
Risiko Pasokan Energi Global Meningkat
Yang menjadi sorotan, pasar juga mencermati potensi gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz dan Laut Merah. Kedua jalur tersebut merupakan rute penting dalam perdagangan energi dunia.
Di sisi lain, data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun sekitar 3,3 juta barel pada pekan lalu.
Penurunan stok tersebut memperkuat sentimen kenaikan harga karena mengindikasikan pasokan minyak yang semakin ketat di pasar global.
