Asap karhutla mulai mendekati sejumlah pusat populasi orangutan di Kalimantan, sementara dampaknya dapat mengganggu ketersediaan makanan satwa.
Asap karhutla mulai menjadi ancaman baru bagi habitat orangutan Kalimantan di sejumlah wilayah.
CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOS), Jamartin Sihite, mengatakan titik api mulai mendekati habitat orangutan yang umumnya berada di dataran rendah.
Di Kalimantan Tengah, kondisi itu terjadi di sekitar kawasan Pulang Pisau dan Taman Nasional Sebangau yang memiliki populasi orangutan cukup besar.
Asap Karhutla Ganggu Sumber Makanan Orangutan
Yang patut dicermati, ancaman karhutla tidak hanya berasal dari api. Asap juga dapat memengaruhi kondisi hutan sebagai sumber makanan orangutan.
Jamartin menjelaskan asap berpengaruh terhadap fungsi polinasi lebah dan tanaman di kawasan hutan.
Akibatnya, peluang tanaman berbunga dan berbuah dapat menurun ketika masa paparan asap berlangsung semakin panjang.
Populasi Orangutan Kalimantan Terus Menurun
Berdasarkan data BOS Foundation, persoalan tersebut muncul ketika populasi orangutan Kalimantan sudah mengalami penurunan besar.
Data PHVA 2016 mencatat sekitar 57.350 individu orangutan Kalimantan atau Pongo pygmaeus tersebar di Kalimantan.
Angka itu turun sekitar 80 persen dalam waktu kurang dari 50 tahun dibandingkan estimasi populasi pada 1973.
Saat itu, BOS Foundation mencatat estimasi populasi orangutan mencapai 288.500 individu.
Sementara itu, pemerintah mengambil langkah perlindungan di tengah ancaman karhutla yang terus mendapat perhatian.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meminta kawasan habitat orangutan mendapat pengawalan melalui patroli rutin.
Selain itu, pemerintah menyiapkan area preservasi koridor orangutan di lanskap Keraitan.
Program tersebut berjalan bersama Pusat Rehabilitasi Satwa Long Sam yang dikelola Conservation Action Network serta mitra konservasi.
Di sisi lain, Raja Juli menyebut kondisi cuaca tahun ini menjadi perhatian serius. Menurutnya, El Nino datang lebih cepat dengan skala sangat kuat menurut BMKG.
Dalam konteks tersebut, penanganan karhutla mencakup perlindungan masyarakat sekaligus satwa liar yang hidup di kawasan terdampak.
