Banjir Sumatera Sistem Pendidikan Pascabencana

Banjir Sumatera dan Ujian Sistem Pendidikan Pascabencana

bahasakita.id – Banjir Sumatera akhir November 2025 tidak hanya menewaskan lebih dari 1.200 jiwa dan merusak ribuan rumah, tetapi juga mengguncang fondasi sistem pendidikan di tiga provinsi. Sedikitnya 4.800 sekolah terdampak, memaksa proses belajar berpindah ke ruang-ruang darurat dan menguji ketahanan tata kelola pendidikan pascabencana.

Dari Aceh hingga Sumatera Barat, ribuan siswa kehilangan ruang kelas, buku pelajaran, hingga akses belajar yang stabil. Dalam konteks tersebut, pertanyaannya menjadi jelas: seberapa siap sistem pendidikan merespons krisis berskala besar seperti ini?

Skala Gangguan dan Implikasi Sistemik

Secara faktual, dampak Banjir Sumatera tidak berhenti pada kerusakan bangunan. Ketika 4.800 sekolah terdampak, rantai administrasi, distribusi bantuan, hingga pendataan guru ikut terguncang.

Di Aceh Timur, misalnya, Sekolah Dasar Negeri di Dusun Ranto Panyang Rubek rata oleh banjir bandang. Proses belajar berpindah ke tenda putih tanpa sekat kelas. Satu papan tulis digunakan bergantian untuk beberapa tingkatan.

Kehilangan buku pelajaran akibat hanyut terbawa arus memperlambat ritme pengajaran. Guru harus menyesuaikan metode dengan fasilitas minimal. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana krisis fisik segera berubah menjadi tekanan sistemik.

Yang patut dicatat, gangguan tersebut terjadi serentak di tiga provinsi. Artinya, beban koordinasi tidak lagi bersifat lokal, melainkan lintas wilayah.

Respons Anggaran dan Rekonstruksi

Mengacu pada situasi terkini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengusulkan tambahan anggaran Rp2,4 triliun untuk pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Alokasi ini mencakup revitalisasi sekolah, tunjangan khusus guru, serta distribusi peralatan bantuan pemerintah.

Target revitalisasi mencapai 1.204 sekolah. Pada saat yang sama, proses verifikasi dan pembukaan rekening untuk 13.000 guru terus dilakukan dengan total tunjangan Rp83,3 miliar.

Selain itu, bantuan peralatan senilai Rp60 miliar disiapkan, termasuk perangkat ICT, laboratorium, olahraga, perlengkapan kebersihan, dan materi bermain edukasi. Dalam kerangka itu, pemulihan tidak hanya berarti membangun ulang gedung, tetapi mengaktifkan kembali seluruh ekosistem belajar.

Kemendikdasmen juga menggelar rapat koordinasi dengan dinas pendidikan di tiga provinsi pada dua pekan terakhir Februari untuk mempercepat rekonstruksi. Di sisi lain, relawan menjalankan sekolah darurat keliling untuk menjaga kesinambungan belajar.

Banjir Sumatera pada akhirnya menjadi cermin. Ketika bencana datang serentak dan masif, daya tahan sistem pendidikan diukur bukan hanya dari jumlah sekolah yang dibangun ulang, tetapi dari kecepatan koordinasi, ketepatan distribusi, dan kesinambungan layanan belajar bagi ribuan siswa.