Daerah Terpanas Di IndonesiaBMKG ungkap musim kemarau yang meluas di daerah indonesia, berikut daerah dengan cuaca panas ekstrem dan himbauan terhadap dampak el nino

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa musim kemarau terus meluas di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi tersebut diikuti dengan meningkatnya suhu udara di sejumlah daerah, terutama di Pulau Jawa, sehingga masyarakat merasakan cuaca yang lebih panas dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Berdasarkan data pemantauan BMKG untuk periode 29–30 Juni 2026, suhu maksimum harian di beberapa wilayah Indonesia berada pada kisaran 33,9 hingga 35,4 derajat Celsius. Mayoritas wilayah dengan suhu tertinggi berada di Pulau Jawa, meski beberapa daerah di Kalimantan, Sumatra, Lampung, hingga Kepulauan Riau juga mengalami kondisi serupa.

Daftar 16 Daerah dengan Suhu Tertinggi Versi BMKG

Berikut daftar wilayah yang mencatat suhu maksimum harian periode 29–30 Juni 2026:

1. Staklim Jawa Tengah, Banjarnegara (Jawa Tengah): 35,4°C
2. Stamet Ahmad Yani, Semarang (Jawa Tengah): 35,0°C
3. Stamet Maritim Tanjung Emas, Semarang (Jawa Tengah): 34,8°C
4. Stamet Kalimarau, Berau (Kalimantan Timur): 34,7°C
5. Stamet Budiarto, Tangerang (Banten): 34,6°C
6. Stamet Tanjung Harapan, Bulungan (Kalimantan Utara): 34,4°C
7. BBMKG Wilayah II, Jakarta: 34,4°C
8. Stageof Lampung Utara (Lampung Utara): 34,2°C
9. Stamet Maritim Tegal, Tegal (Jawa Tengah): 34,2°C
10. Stamet Tarempa, Anambas (Kepulauan Riau): 34,2°C
11. Staklim Lampung: 34,2°C
12. Stamet Kertajati, Majalengka (Jawa Barat): 34,2°C
13. Iswahyudi TNI AU, Madiun (Jawa Timur): 34,0°C
14. Taman Alat Digital Staklim Sumatera Selatan, Palembang: 34,0°C
15. Husein Sastranegara TNI AU, Bandung (Jawa Barat): 34,0°C
16. Pos Pengamatan Kemayoran, Jakarta: 33,9°C

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah di Pulau Jawa masih menjadi kawasan dengan suhu maksimum tertinggi selama periode pengamatan BMKG.

Musim Kemarau Terus Meluas

BMKG menyebutkan hasil analisis Dasarian III Juni 2026 memperlihatkan musim kemarau telah meluas ke berbagai wilayah Indonesia. Daerah yang telah memasuki musim kemarau meliputi sebagian wilayah Sumatra Utara, Jambi, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, hingga Maluku.

Perluasan musim kemarau tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global yang saat ini menunjukkan perkembangan fenomena El Nino.

Menurut BMKG, anomali suhu permukaan laut atau Sea Surface Temperature (SST) di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar +1,61. Nilai tersebut menandakan kondisi El Nino yang berpotensi mengurangi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Curah Hujan Diperkirakan Semakin Rendah

Dalam beberapa hari ke depan, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian.

Wilayah yang berpotensi mengalami penurunan curah hujan meliputi sebagian Pulau Sumatra, Banten, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua.

Kondisi tersebut mempertegas bahwa musim kemarau kini semakin meluas dan berpotensi berlangsung lebih kering apabila pengaruh El Nino terus menguat.

El Nino Diprediksi Semakin Kuat

BMKG juga mengungkapkan peluang fenomena El Nino berkembang menjadi kategori kuat mencapai sekitar 98 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan prediksi sebelumnya yang berada di kisaran 62 persen.

Meski demikian, kondisi Dipole Mode Index (IOD) saat ini masih berada pada fase netral dengan nilai -0,298. Artinya, faktor utama yang memengaruhi penurunan curah hujan saat ini berasal dari perkembangan El Nino di Samudra Pasifik.

Perubahan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik maupun Samudra Hindia diketahui dapat memengaruhi pola hujan, suhu udara, hingga potensi cuaca ekstrem di Indonesia.

Masyarakat Diminta Waspada Cuaca Panas

Dengan meningkatnya suhu udara dan meluasnya musim kemarau, masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh saat beraktivitas di luar ruangan. Mengonsumsi air putih yang cukup, menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari, serta menghindari aktivitas berat pada siang hari dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas.

Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan maupun kebakaran di area pembuangan sampah, mengingat kondisi udara yang semakin kering selama musim kemarau berlangsung.

BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika atmosfer dan memberikan pembaruan informasi cuaca secara berkala agar masyarakat dapat mengantisipasi dampak yang ditimbulkan selama musim kemarau 2026.