Bahasa Kita – Fenomena El Nino tahun 2026 diperkirakan menjadi salah satu yang paling parah dalam sejarah modern. Para ilmuwan menemukan gelombang panas bawah laut raksasa di Samudra Pasifik yang diyakini memicu pola cuaca ekstrem global.
Fenomena itu berkaitan dengan kemunculan Gelombang Kelvin di bawah permukaan laut Pasifik. Struktur bawah laut tersebut membawa kumpulan air hangat dalam jumlah besar dengan suhu jauh di atas normal.
Dikutip dari Futurism, suhu air dalam fenomena tersebut mencapai 13,5 derajat Fahrenheit di atas rata-rata wilayah laut serupa. Kondisi itu disebut sangat ekstrem dalam konteks perubahan suhu lautan.
Yang menarik, perubahan suhu di laut dalam biasanya berlangsung jauh lebih lambat dibandingkan suhu di daratan. Artinya, efek panas tersebut diperkirakan bertahan dalam waktu panjang.
Gelombang Kelvin Jadi Pemicu El Nino 2026
Berdasarkan penjelasan ilmuwan, Gelombang Kelvin muncul akibat perubahan kekuatan angin di Samudra Pasifik.
Hembusan angin barat secara mendadak mendorong massa air panas dari Pasifik bagian barat menuju timur.
Dalam praktiknya, perubahan arah angin itu membuat kumpulan air hangat menyebar lebih jauh dibandingkan kondisi normal.
Akibatnya, suhu laut meningkat secara signifikan dan memicu terbentuknya El Nino berskala besar.
“Gelombang Kelvin saat ini sangat mengesankan dan, menurut beberapa ukuran yang kami lihat gelombang ini menyaingi gelombang yang kita lihat pada tahun 1997,” ujar peneliti Pusat Prediksi Iklim Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional, Michelle L’Heureux.
Yang patut dicatat, El Nino tahun 1997 termasuk salah satu super El Nino paling ekstrem yang pernah tercatat dunia.
El Nino Disebut Mirip Fenomena Tahun 1877
Dikutip dari WION, fenomena El Nino kali ini disebut menjadi yang terburuk dalam sekitar 150 tahun terakhir.
Dunia terakhir kali mengalami kondisi serupa pada tahun 1877. Pada masa itu, fenomena El Nino memicu kekacauan cuaca di berbagai wilayah dunia.
The Wall Street Journal bahkan menyebut kondisi terbaru ini sebagai gelombang panas raksasa di lautan.
Hal ini terlihat dari suhu laut yang berada jauh di atas rata-rata normal. Kondisi tersebut dinilai tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Di sisi lain, suhu laut dalam membutuhkan waktu sangat lama untuk kembali stabil. Imbasnya, pola cuaca global berpotensi terganggu lebih panjang.
BMKG Prediksi El Nino Aktif di Indonesia Hingga 2027
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan El Nino mulai aktif di Indonesia sejak Juni 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fatani mengatakan fenomena tersebut diperkirakan berlangsung hingga Maret atau Mei 2027.
“Jadi, kalau tahun ini aktif, akan berakhir kira-kira di bulan Maret sampai bulan Mei di tahun 2027,” kata Faisal, Jumat (23/5/2026).
Ia menjelaskan El Nino merupakan anomali iklim global yang muncul setiap tiga hingga tujuh tahun sekali.
Namun pada kenyataannya, El Nino 2026 terjadi bersamaan dengan musim kemarau di Indonesia.
Dalam konteks tersebut, dampak yang muncul diperkirakan lebih berat dibandingkan periode normal.
Dampak El Nino Berpotensi Perpanjang Musim Kemarau
BMKG memperkirakan El Nino tahun ini memiliki intensitas moderate hingga kuat.
Akibatnya, musim kemarau di Indonesia diprediksi menjadi lebih panjang dan lebih kering.
Yang kerap luput diperhatikan, perubahan pola hujan akibat El Nino dapat memengaruhi berbagai sektor secara bersamaan.
Secara faktual, kondisi itu terjadi karena curah hujan turun di bawah rata-rata selama periode kemarau berlangsung.
Dengan kata lain, fenomena El Nino berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia hingga tahun depan.
