Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu aktivitas masyarakat di Sumatera Selatan, terutama di Kabupaten Musi Rawas dan Kota Palembang, pada Oktober. Kondisi tersebut membatasi jarak pandang, menimbulkan keluhan kesehatan, serta menghambat kegiatan pertanian dan sejumlah penerbangan.
Kabut asap karhutla masih menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan pada Senin (12/10). Di Kecamatan Tugu Mulyo, Kabupaten Musi Rawas, asap tebal mengganggu aktivitas petani. Sementara itu, di Palembang, jarak pandang sempat dilaporkan hanya sekitar 20 meter pada Sabtu sore (10/10).
Warga melaporkan gangguan berupa mata perih, hidung tersumbat, dan ketidaknyamanan saat bernapas. Kondisi tersebut juga memengaruhi mobilitas masyarakat. Pengguna jalan harus meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi kawasan dengan jarak pandang terbatas.
Kabut Asap Karhutla di Musi Rawas Menghambat Kegiatan Pertanian
Di Kabupaten Musi Rawas, kabut asap telah mengganggu aktivitas warga selama sekitar dua minggu. Ketebalan asap meningkat dalam lima hari terakhir berdasarkan keterangan warga. Kecamatan Tugu Mulyo menjadi salah satu wilayah yang mengalami kondisi tersebut.
Asap juga menutupi pemandangan bentang alam dari Bukit Barisan. Situasi ini menambah gambaran mengenai ketebalan kabut yang menyelimuti kawasan tersebut.
Sutri, seorang petani setempat, menyampaikan bahwa kondisi udara mengganggu kegiatan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa kabut terasa semakin mengganggu pada waktu tertentu.
"Kabut asap di Musi Rawa ini sudah sekitar 2 minggu, tebalnya sudah lima hari terakhir. Mata menjadi perih kalau siang, pagi sama sore gelap," kata Sutri.
Petani lainnya, Purdianto, juga menyampaikan keluhan kesehatan. Ia merasakan mata pedih, hidung tersumbat, dan tubuh tidak nyaman seperti hendak demam. Keluhan tersebut membuatnya mempertimbangkan kembali aktivitas di sawah.
Palembang Mengalami Penurunan Jarak Pandang
Kondisi kabut asap di Palembang dilaporkan memburuk pada Sabtu sore (10/10). Jarak pandang mencapai sekitar 20 meter. Bau asap turut mengganggu pernapasan serta menyebabkan mata perih dan tenggorokan kering.
Nora, salah seorang warga Palembang, mengatakan kabut asap telah berlangsung lebih dari dua bulan. Menurut keterangannya, kondisi pada hari tersebut terasa lebih parah dibandingkan sebelumnya.
"Harapan kepada pemerintah harus cepat penanganan jangan lambat karena sudah banyak korban terkena penyakit ISPA," ujar Nora.
Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat 17.434 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama September. Namun, data yang tersedia tidak menjelaskan jumlah kasus yang secara khusus disebabkan oleh paparan kabut asap karhutla.
Empat Penerbangan Mengalami Penundaan
Kabut asap juga berdampak pada operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Pada Jumat (9/10), sedikitnya empat penerbangan mengalami penundaan akibat jarak pandang yang berada di bawah standar minimum penerbangan, yakni 400 meter.
Keempat penerbangan tersebut meliputi JT246 dengan rute Palembang–Batam, IU921 dengan rute Palembang–Jakarta, IU302 dengan rute Palembang–Pangkalpinang, dan IU933 dari Yogyakarta menuju Palembang.
Di jalan raya, pengendara juga menghadapi keterbatasan jarak pandang. Sejumlah pengguna kendaraan menyalakan lampu untuk membantu visibilitas selama perjalanan. Kondisi ini menuntut kehati-hatian lebih tinggi ketika berkendara di tengah kabut asap.
Warga Mengharapkan Penanganan Kebakaran dan Hujan
Masyarakat berharap kebakaran hutan dan lahan segera ditangani agar kabut asap tidak terus mengganggu kehidupan sehari-hari. Warga Musi Rawas juga mengharapkan hujan dapat membantu mengurangi kabut yang menyelimuti wilayah mereka.
Hingga Senin (12/10), data yang tersedia belum menjelaskan luas keseluruhan area kebakaran maupun perkembangan penanganan di setiap lokasi. Informasi tersebut diperlukan untuk menggambarkan kondisi karhutla secara menyeluruh.
Kabut asap di Sumatera Selatan telah memengaruhi kegiatan pertanian, kenyamanan masyarakat, kesehatan, dan perjalanan udara. Penanganan sumber kebakaran serta pemantauan kualitas udara menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak yang dirasakan warga.