Darurat Ceuta memicu perdebatan setelah ribuan orang menyeberang dari Maroko ke wilayah kantong Spanyol. Di tengah krisis itu, warganet mengaitkan situasi dengan artikel lama yang membahas tekanan terhadap Spanyol karena dukungannya kepada Palestina.
Darurat Ceuta menjadi sorotan setelah ribuan orang memasuki wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara melalui jalur darat dan laut. Situasi tersebut membebani sistem penerimaan setempat dan mendorong pemerintah Spanyol mengerahkan tambahan personel kepolisian serta militer.
Di saat yang sama, media sosial ramai membahas kemungkinan adanya kaitan antara krisis tersebut dengan sikap Spanyol yang secara terbuka mendukung Palestina. Perdebatan muncul setelah sejumlah pengguna kembali membagikan artikel yang diterbitkan beberapa bulan sebelumnya oleh analis pro-Israel.
Artikel tersebut berisi pandangan agar Israel dan Amerika Serikat membantu Maroko memperkuat klaim atas Ceuta dan Melilla sebagai bentuk tekanan terhadap Madrid. Namun, isi tulisan itu merupakan pendapat analis dan bukan kebijakan resmi pemerintah Israel.
Artikel Lama Kembali Menjadi Sorotan
Michael Rubin, peneliti senior di American Enterprise Institute, dalam tulisannya di Middle East Forum pada Maret mengusulkan agar Maroko menggelar “Pawai Hijau” baru menuju Ceuta dan Melilla. Ia menyarankan warga Maroko mendekati wilayah tersebut tanpa senjata sambil membawa bendera negaranya.
Selain itu, artikel lain yang dimuat media Israel Ynet pada April juga mengulas kemungkinan Israel menggunakan pengaruh diplomatiknya untuk mendukung klaim Maroko atas kedua wilayah tersebut. Penulisnya, Amine Ayoub, menilai langkah itu dapat menjadi tekanan terhadap Spanyol.
Krisis Perbatasan Perkuat Perdebatan
Yang menjadi sorotan, kemunculan kembali artikel-artikel tersebut bertepatan dengan meningkatnya arus penyeberangan dari Maroko menuju Ceuta. Akibatnya, aparat Spanyol dan Maroko memperketat pengamanan di kawasan perbatasan.
Berdasarkan laporan yang beredar, sedikitnya 19 jenazah ditemukan di perairan ketika aparat kedua negara berupaya menghentikan penyeberangan lanjutan. Sementara itu, peristiwa tersebut mengingatkan publik pada krisis serupa pada Mei 2021 saat sekitar 8.000 orang memasuki Ceuta setelah kontrol perbatasan Maroko dilonggarkan di tengah perselisihan diplomatik dengan Spanyol.
