Kapten kapal asal Gowa disandera selama dua bulan oleh perompak Somalia. Keluarga mengungkap kondisi fisiknya terus menurun dan meminta pemerintah mempercepat upaya pembebasan.
Kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Ashari Samadikun, masih berada dalam penyanderaan kelompok perompak Somalia setelah lebih dari dua bulan sejak insiden pembajakan terjadi.
Kabar terbaru yang diterima keluarga memunculkan kekhawatiran besar. Ayah Ashari, Syamsuddin Dg Ngawing, menyebut kondisi putranya jauh berbeda dibanding sebelum berangkat bekerja sebagai pelaut.
Menurut Syamsuddin, perubahan fisik Ashari terlihat sangat drastis selama berada dalam penguasaan perompak.
“Badannya sudah kurus, matanya kosong, rambut dan jenggotnya sudah panjang. Inilah keprihatinan saya sebagai orangtua,” ujarnya.
Keluarga Terus Menunggu Kabar Pembebasan
Setiap hari Syamsuddin memikirkan keselamatan anaknya. Ia mengaku sulit menjalani aktivitas secara tenang sejak menerima kabar pembajakan kapal yang dipimpin Ashari.
Yang jadi sorotan, hingga kini belum ada kepastian kapan empat warga negara Indonesia yang berada di kapal tersebut dapat dibebaskan.
Selain Ashari, terdapat tiga WNI lain yang masih berada dalam kapal yang dikuasai kelompok perompak.
Karena itu, keluarga terus menanti perkembangan terbaru dari pihak terkait.
Ayah Ashari Minta Pemerintah Turun Tangan
Di tengah ketidakpastian tersebut, Syamsuddin meminta perhatian pemerintah pusat terhadap nasib para sandera.
Ia berharap Presiden Prabowo Subianto dapat membantu mempercepat langkah pembebasan.
Menurutnya, Ashari berangkat ke luar negeri untuk bekerja dan mencari nafkah bagi keluarga.
Selain itu, ia juga meminta anggota DPR ikut memberi perhatian terhadap empat WNI yang masih berada di Somalia.
“Saya berharap kepada bapak Presiden sebagai kepala negara. Anak saya adalah warga negara Indonesia yang keluar negeri untuk mencari nafkah,” katanya.
Informasi Lebih Banyak Diperoleh dari KBRI
Selama proses penyanderaan berlangsung, keluarga mengaku lebih sering memperoleh informasi melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Somalia.
Sementara itu, perusahaan tempat Ashari bekerja disebut belum menjalin komunikasi langsung dengan keluarga.
Yang patut dicermati, keluarga juga menilai perusahaan belum terlihat melakukan negosiasi dengan kelompok perompak.
Syamsuddin mengaku belum melihat langkah konkret dari pihak perusahaan terkait pembebasan para kru.
Doa Terus Dipanjatkan untuk Keselamatan Sandera
Selain menunggu upaya diplomasi, keluarga terus meminta dukungan doa dari berbagai pihak.
Syamsuddin mengaku telah mendatangi sejumlah ulama dan ustaz di Makassar untuk memohon doa bagi keselamatan putranya.
Menurutnya, dukungan moral menjadi salah satu kekuatan keluarga dalam menghadapi situasi yang belum menentu.
Hingga kini, keluarga masih berharap Ashari dan tiga WNI lainnya dapat segera keluar dari situasi penyanderaan yang berlangsung sejak April 2026.
