kekeringan meteorologis NTBKekeringan meteorologis NTB meluas. BMKG menetapkan sejumlah kecamatan berstatus siaga akibat hari tanpa hujan dan risiko krisis air bersih.

Kekeringan meteorologis NTB meluas di sejumlah wilayah Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. BMKG menetapkan beberapa kecamatan berstatus siaga setelah hari tanpa hujan berlangsung hingga lebih dari satu bulan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam status siaga kekeringan meteorologis. Kondisi tersebut terjadi akibat hari tanpa hujan yang berlangsung cukup panjang dalam beberapa pekan terakhir.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini mengatakan hari tanpa hujan berturut-turut di berbagai wilayah NTB berada pada kategori menengah hingga sangat panjang. Situasi ini meningkatkan potensi kekeringan di sejumlah daerah.

Yang menjadi sorotan, Stasiun Meteorologi Muhammad Salahuddin di Kabupaten Bima mencatat hari tanpa hujan terpanjang. Durasinya mencapai 35 hari berturut-turut dan masuk kategori sangat panjang.

Daerah yang Berstatus Siaga Kekeringan

BMKG mencatat beberapa kecamatan telah masuk level siaga kekeringan meteorologis. Wilayah tersebut tersebar di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

  • Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat
  • Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah
  • Kecamatan Pringgabaya dan Suela, Kabupaten Lombok Timur
  • Kecamatan Hu’u dan Manggalewa, Kabupaten Dompu
  • Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima

Sementara itu, BMKG juga menetapkan sejumlah kecamatan lain dalam level waspada. Wilayah tersebut berada di Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

Hari Tanpa Hujan Terus Memanjang

Menurut Suci, panjangnya periode tanpa hujan menjadi faktor utama yang memicu peningkatan status kekeringan. Kondisi tersebut terjadi secara merata di sejumlah wilayah NTB.

Dalam konteks tersebut, masyarakat perlu memperhatikan ketersediaan air bersih. Sebab, musim kering berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan periode sebelumnya.

Selain itu, perluasan wilayah siaga dan waspada menunjukkan bahwa dampak kekeringan tidak lagi terbatas pada satu kawasan tertentu.

Suci Agustiarini
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini

BMKG Imbau Warga Hemat Air

BMKG meminta masyarakat menggunakan air secara bijak. Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih selama periode tanpa hujan masih berlangsung.

Tak hanya itu, BMKG juga mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan. Risiko serupa juga mengancam kawasan permukiman.

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran sembarangan. Warga juga perlu memastikan tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.

Peluang Hujan Masih Terbatas

Pada dasarian III Juni 2026 atau periode 21 hingga 30 Juni, peluang hujan di NTB masih relatif rendah. BMKG memperkirakan curah hujan lebih dari 20 milimeter per dasarian hanya memiliki probabilitas sekitar 10 hingga 40 persen.

Prediksi tersebut berlaku di sebagian wilayah Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Artinya, kondisi kering masih berpotensi bertahan dalam waktu dekat.

Yang perlu digarisbawahi, terbatasnya peluang hujan dapat memperpanjang periode hari tanpa hujan di sejumlah daerah yang saat ini sudah berstatus siaga maupun waspada.