El Nino Moderat diperkirakan bertahan hingga akhir 2026 dan berpotensi menguat. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah NTB.
BMKG memprediksi fenomena El Nino Moderat masih akan berlangsung hingga akhir tahun 2026. Bahkan, peluang peningkatan menuju El Nino kuat mencapai 86 persen dalam beberapa bulan mendatang.
Di tengah prediksi tersebut, sejumlah wilayah Nusa Tenggara Barat sudah mengalami kekeringan meteorologis. Beberapa kecamatan bahkan masuk kategori siaga akibat panjangnya hari tanpa hujan.
Kondisi iklim global yang berkembang saat ini menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi pola curah hujan di berbagai daerah.
BMKG Ungkap Kondisi ENSO dan IOD Terkini
Berdasarkan pemantauan terbaru, anomali suhu muka laut atau SST di wilayah Nino3.4 menunjukkan ENSO berada pada kategori El Nino Moderat.
Indeks yang tercatat mencapai +1,40. Menurut BMKG, peluang El Nino bertahan pada kategori moderat mencapai 100 persen hingga akhir tahun.
Lebih jauh, BMKG juga melihat potensi peningkatan menjadi El Nino kuat. Peluangnya mencapai 86 persen pada periode yang sama.
Sementara itu, pemantauan Indian Ocean Dipole atau IOD menunjukkan kondisi negatif dengan indeks minus 0,49.
Namun, BMKG memperkirakan IOD berpeluang bergerak menuju fase positif mulai Agustus hingga Desember 2026.
Dampak yang Mulai Terlihat di NTB
Secara faktual, sejumlah wilayah NTB sudah mengalami hari tanpa hujan dalam durasi panjang. Kondisi tersebut mendorong peningkatan status kekeringan meteorologis.
Beberapa kecamatan di Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Dompu, dan Kabupaten Bima kini masuk kategori siaga.
Yang menarik, Kabupaten Bima mencatat periode tanpa hujan paling panjang. Durasinya mencapai 35 hari berturut-turut.
Akibatnya, kebutuhan air bersih menjadi perhatian utama. Selain itu, risiko kebakaran juga meningkat seiring mengeringnya vegetasi dan lahan.
Peluang Hujan Belum Signifikan
Mengacu pada prakiraan BMKG, peluang hujan pada dasarian III Juni 2026 masih terbatas. Sebagian wilayah Lombok dan Sumbawa hanya memiliki probabilitas 10 hingga 40 persen untuk curah hujan lebih dari 20 milimeter per dasarian.
Dalam praktiknya, kondisi tersebut belum cukup kuat untuk mengakhiri periode kering yang sedang berlangsung.
Dampaknya, sejumlah wilayah yang saat ini berada dalam kategori waspada berpotensi mengalami tekanan yang lebih besar apabila hujan tidak segera turun.
Risiko Kebakaran Jadi Sorotan
Selain masalah air bersih, BMKG juga menyoroti ancaman kebakaran hutan dan lahan. Risiko serupa dapat muncul di kawasan permukiman.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap sumber api. Langkah pencegahan menjadi penting selama musim kering berlangsung.
Yang patut dicatat, kombinasi hari tanpa hujan yang panjang dan potensi penguatan El Nino dapat memperbesar risiko kekeringan pada paruh kedua tahun 2026.
Dalam konteks tersebut, perkembangan kondisi iklim global akan menjadi faktor penting yang memengaruhi situasi cuaca di NTB dalam beberapa bulan ke depan.
