Kesehatan

ISPA Akibat Asap Karhutla Naik hingga 3,8 Kali Lipat

ISPA akibat asap karhutla
ISPA akibat asap karhutla

Kasus ISPA akibat asap karhutla tercatat naik 1,8 sampai 3,8 kali dibanding periode yang sama tahun sebelumnya di daerah terdampak. Angka itu tercantum dalam buku Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) yang terbit pada 2019.

Buku berjudul Pencegahan dan Penanganan Dampak Kesehatan Akibat Asap Kebakaran Hutan itu disusun PDPI dan terbit pada 2019. Penulis utamanya, Dr dr Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), adalah profesor sekaligus dokter spesialis paru dan pernapasan konsultan. Agus menjelaskan sebagian isi buku itu kepada Kompas.com lewat telepon, Jumat (9/10/2026).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turut menyatakan bahwa penurunan kualitas udara menjadi salah satu faktor risiko yang meningkatkan kejadian ISPA.

Kandungan Asap Karhutla yang Memicu ISPA

Menurut buku PDPI, asap kebakaran hutan merupakan campuran kompleks hasil pembakaran tidak sempurna. Campuran itu mengandung gas, partikel, uap air, bahan organik, dan mineral.

Gas yang terkandung meliputi karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), ozon (O3), dan sulfur dioksida (SO2). Partikelnya disebut particulate matter (PM). Ukuran di bawah 10 mikrometer memungkinkan partikel terhirup hingga ke paru. Adapun partikel yang lebih besar biasanya tidak masuk paru, tetapi dapat mengiritasi mata, hidung, dan tenggorokan.

Karbon monoksida berwujud gas tidak berwarna dan tidak berbau. Kemampuannya mengikat hemoglobin 200 kali lebih kuat dibanding oksigen. Agus menegaskan bahwa alat penyaring udara tidak melindungi dari komponen gas.

"Air purifier itu tidak bisa melindungi dari komponen gas. Dia hanya bisa memfiltrasi dari komponen partikel," kata Agus.

Mengenali Gejala ISPA akibat Asap Karhutla

Menurut Kemenkes, ISPA adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan mulai dari hidung, sinus, tenggorokan, hingga paru-paru. Virus menjadi penyebab umumnya, meski pada beberapa kasus bakteri atau gabungan keduanya ikut berperan. Penyakit ini mudah menular lewat percikan ludah saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara. Tangan yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut juga menjadi jalur penularan.

Kemenkes menyebut ciri ISPA meliputi batuk kering atau berdahak, pilek atau hidung tersumbat, sakit tenggorokan, serta demam. Gejala lain berupa bersin, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, badan lemas, suara serak, dan nafsu makan menurun.

Pada orang dewasa, gejala dapat muncul bertahap maupun tiba-tiba, dan sebagian besar kasus bersifat ringan. Namun, sesak napas, napas cepat, nyeri dada, atau bibir kebiruan memerlukan pemeriksaan medis segera.

Kabut AsapAnak Menjadi Kelompok Paling Rentan

Bayi dan balita termasuk kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami infeksi maupun komplikasi, menurut Kemenkes. Faktor risikonya antara lain paparan asap rokok, polusi udara, dan ventilasi rumah yang kurang baik. Status gizi kurang serta imunisasi yang belum lengkap juga berpengaruh.

Buku PDPI juga memasukkan anak sebagai kelompok sangat rentan terhadap asap kebakaran hutan. Karena itu, anak disarankan tidak bermain di luar rumah saat asap pekat.

Risiko Rawat Inap dan Dampak Jangka Panjang

Catatan buku PDPI menunjukkan kasus ISPA naik 12 persen setiap PM10 bertambah dari 50 menjadi 150 mikrogram per meter kubik. Pajanan asap juga meningkatkan kemungkinan ISPA oleh bakteri dan virus karena menekan aktivitas makrofag, sel yang berperan dalam pertahanan paru. Akibatnya, pneumonia dan komplikasi pernapasan lain lebih mudah terjadi.

Perawatan di rumah sakit karena penyakit pernapasan meningkat 11-18 persen setiap kenaikan PM10 sebesar 30 mikrogram per meter kubik. Risiko kematian juga meningkat 3 persen pada kenaikan yang sama. Agus menjelaskan, penundaan penanganan membuat gejala bertambah berat dan dapat menimbulkan komplikasi lain, terutama pada penderita penyakit dasar.

Paparan jangka panjang dapat menurunkan fungsi paru dan memicu hipereaktivitas saluran napas, yaitu reaksi berlebihan terhadap pemicu. Asap kebakaran hutan juga mengandung bahan karsinogen, misalnya polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH).

Meski begitu, buku PDPI menyebut belum ada bukti dan laporan kanker akibat pajanan asap kebakaran hutan. Karbon monoksida konsentrasi rendah dilaporkan menimbulkan sakit kepala, mual, depresi, dan gangguan neurologis menetap, serta memperburuk gejala penyakit jantung koroner.

Kewaspadaan bagi Warga Daerah Terdampak

Data PDPI menunjukkan asap karhutla membawa risiko nyata bagi kesehatan pernapasan, terutama bagi anak dan penderita penyakit dasar. Warga di daerah terdampak perlu memantau kondisi tubuh dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila muncul gejala berat. Informasi dalam buku ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.