Bahasa Kita – La Paz kini menjadi pusat krisis terbesar di Bolivia setelah gelombang demonstrasi selama hampir sebulan melumpuhkan distribusi logistik dan memicu kelangkaan kebutuhan pokok. Ribuan demonstran memblokade akses jalan utama menuju ibu kota politik Bolivia itu.
Blokade membuat pengiriman makanan, bahan bakar, hingga pasokan medis tertahan di jalur pegunungan. Dampaknya langsung terasa di berbagai wilayah, terutama di La Paz yang sangat bergantung pada akses distribusi darat.
Presiden Bolivia Rodrigo Paz menyebut negaranya berada di titik kritis. Ia memperingatkan situasi semakin memburuk jika demonstrasi terus berlanjut.
“Negara ini membutuhkan ketertiban, dan telah mencapai titik kritis,” kata Paz dalam pidato publik di La Paz.
La Paz Dikepung Demonstran
Ribuan massa dari kelompok pekerja berpenghasilan rendah dan masyarakat adat terus bertahan di sejumlah titik blokade. Mereka memprotes kebijakan ekonomi pemerintah yang dianggap memperburuk kondisi hidup masyarakat.
Yang jadi sorotan, aksi tersebut membuat ribuan truk pengangkut logistik tidak bisa memasuki La Paz. Dalam praktiknya, kota itu mulai mengalami krisis pasokan serius.
Menurut laporan media lokal, rak supermarket mulai kosong dari sejumlah bahan pokok.
- Daging sapi
- Telur
- Buah-buahan
- Bahan bakar
- Obat-obatan
Pemerintah bahkan menerbangkan ayam bersubsidi menggunakan pesawat militer untuk menjaga distribusi pangan.
Rumah Sakit di La Paz Mulai Membatasi Persediaan
Krisis juga berdampak langsung pada layanan kesehatan. Ribuan tabung oksigen dan perlengkapan medis tertahan di jalan raya akibat blokade.
Rumah sakit di La Paz masih beroperasi. Namun pada kenyataannya, sejumlah fasilitas mulai membatasi penggunaan persediaan medis.
Pasien kritis kini diprioritaskan. Pemerintah menyebut sedikitnya empat orang meninggal akibat keterlambatan penanganan medis.
Efek langsungnya mulai terasa di berbagai layanan darurat. Situasi tersebut memperbesar tekanan terhadap pemerintahan Paz yang belum genap enam bulan menjabat.
Kebijakan Ekonomi Jadi Pemicu Kemarahan
Kemarahan publik dipicu kebijakan penghapusan subsidi bahan bakar. Harga energi melonjak hampir 90 persen setelah subsidi dicabut.
Warga juga mengeluhkan kualitas bahan bakar yang disebut merusak kendaraan.
Paz sempat mencoba meredam tekanan dengan sejumlah kebijakan baru.
- Menaikkan upah minimum 20 persen
- Memberikan bantuan tunai
- Mencabut rancangan undang-undang pertanahan
Meski begitu, langkah tersebut belum mampu menghentikan demonstrasi.
“Bukannya tiba-tiba ia diminta mengundurkan diri. Ia punya waktu untuk memberikan solusi atas masalah-masalah ini,” kata pemimpin demonstrasi Mirian Huarina.
Pemerintah Siapkan Langkah Darurat
Tekanan politik terhadap Presiden Paz semakin besar. Kongres Bolivia telah mencabut pembatasan terhadap peran militer dalam menangani kerusuhan sipil.
Keputusan itu membuka peluang penerapan keadaan darurat selama 60 hari.
Paz menegaskan pengerahan militer masih menjadi pilihan terakhir. Namun ia juga memberi sinyal tindakan tegas bisa diambil jika dialog gagal dilakukan.
“Jika mereka tidak menginginkan dialog… maka tidak ada jalan lain,” ujarnya.
Di waktu bersamaan, mantan Presiden Evo Morales kembali menyerukan pemilu dini. Morales meminta pemerintahan Paz segera menentukan arah penyelesaian krisis.
Krisis di La Paz kini berkembang menjadi tekanan politik dan sosial terbesar Bolivia dalam beberapa dekade terakhir.
