Netanyahu respons kesepakatan damai AS-Iran dengan menegaskan bahwa prioritas utama Israel tetap sama, yakni mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran yang masih menunggu penandatanganan resmi.
Netanyahu respons kesepakatan damai AS-Iran untuk pertama kalinya sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan penghentian konflik dengan Iran. Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Senin (15/6), Perdana Menteri Israel itu menegaskan bahwa keamanan negaranya tetap menjadi prioritas utama.
Menurut Netanyahu, ada atau tidak adanya kesepakatan damai tidak mengubah tujuan strategis Israel. Ia menekankan bahwa Israel akan terus memastikan Iran tidak pernah memiliki kemampuan senjata nuklir.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pembelaan terhadap keputusan pemerintahannya yang sebelumnya meluncurkan kampanye militer ke Iran. Langkah itu menuai kritik dari berbagai pihak karena sempat memicu lonjakan harga minyak dunia.
Netanyahu Sebut Serangan ke Iran Cegah Ancaman Nuklir
Dalam pidatonya, Netanyahu menilai operasi militer yang dilakukan Israel justru berhasil mencegah ancaman yang lebih besar.
Ia menyatakan serangan tersebut telah menyelamatkan Israel dari potensi bencana nuklir. Karena itu, pemerintah Israel tetap meyakini bahwa kebijakan yang ditempuh selama ini berada di jalur yang tepat.
“Yang terpenting adalah kita telah menyelamatkan negara Israel dari ancaman pemusnahan oleh nuklir,” kata Netanyahu.
Yang jadi sorotan, pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap proses perdamaian yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran.
Kesepakatan Damai AS-Iran Masih Menunggu Penandatanganan
Sementara itu, Donald Trump pada Minggu (14/6) mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai. Kesepakatan tersebut mencakup penghentian pertempuran di berbagai front konflik.
Tak hanya itu, kesepakatan juga menyentuh situasi di Lebanon yang selama ini menjadi salah satu titik ketegangan akibat operasi militer Israel.
Meski demikian, proses tersebut belum selesai sepenuhnya. Hingga kini, kedua pihak belum menandatangani dokumen resmi yang mengikat secara hukum.
Berdasarkan rencana yang telah diumumkan, nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) akan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6).
Dalam konteks tersebut, berbagai reaksi mulai bermunculan dari kalangan pejabat Israel.
Sejumlah Menteri Israel Tolak Kesepakatan
Pada Senin (15/6), beberapa menteri Israel menyampaikan penolakan terhadap kesepakatan damai yang diumumkan Amerika Serikat.
Salah satu suara paling keras datang dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir. Ia menilai Israel tidak memiliki kewajiban untuk mengikuti kesepakatan tersebut.
Menurut Ben Gvir, Israel tidak terlibat dalam proses perundingan sehingga tidak terikat dengan hasil yang dicapai oleh pihak lain.
Di sisi lain, Netanyahu tidak secara langsung menyatakan penolakan terhadap kesepakatan itu. Namun, ia menegaskan bahwa Israel tetap akan mengambil langkah yang dianggap perlu demi menjaga keamanan nasional.
Israel Pertahankan Posisi Militer di Lebanon, Gaza, dan Suriah
Lebih jauh, Netanyahu juga menyinggung keberadaan pasukan Israel di sejumlah wilayah yang masih menjadi pusat konflik.
Ia menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon. Selain itu, kehadiran militer juga akan dipertahankan di Jalur Gaza dan Suriah.
Menurutnya, langkah tersebut bertujuan mencegah munculnya ancaman baru terhadap Israel.
“Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris menancapkan diri di perbatasan kami, menggali terowongan teror ke wilayah kami, atau mempersiapkan pembantaian di dekat warga negara kami,” ujarnya.
Yang patut dicatat, pernyataan itu menunjukkan bahwa kebijakan keamanan Israel tetap berjalan meski proses kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran sedang berlangsung.
