Budidaya Ikan teknologi bioflokPertamina Patra Niaga memperkuat ketahanan pangan lewat budidaya ikan bioflok

Bahasa Kita – PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga terus memperkuat program ketahanan pangan nasional lewat pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Melalui Program Community Involvement and Development (CID), Pertamina Patra Niaga menghadirkan berbagai solusi pangan berkelanjutan di sejumlah daerah.

Yang jadi sorotan, perusahaan tidak hanya fokus pada ketersediaan pangan. Program tersebut juga mendorong peningkatan pendapatan masyarakat dan penguatan ekonomi lokal.

Budidaya Ikan Bioflok Jadi Solusi Warga Pesisir Dumai

Salah satu program unggulan dijalankan di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau.

Di wilayah pesisir tersebut, Pertamina Patra Niaga mengembangkan budidaya ikan nila berbasis teknologi bioflok.

Program ini hadir sebagai solusi atas ketidakpastian hasil tangkapan laut yang selama ini dihadapi masyarakat.

Selain itu, warga juga menghadapi tantangan cuaca, keterbatasan sarana perikanan, dan ancaman abrasi.

Melalui teknologi bioflok, masyarakat kini memiliki sumber pangan sekaligus sumber pendapatan yang lebih stabil.

Dalam praktiknya, budidaya ikan nila memiliki masa panen sekitar empat hingga enam bulan.

Tak hanya itu, program tersebut juga memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS berkapasitas 4,4 kWp.

Secara faktual, penggunaan PLTS mampu menghemat biaya listrik hingga Rp9,3 juta per tahun.

Selain mengurangi pengeluaran, sistem tersebut juga menekan emisi karbon hingga 5,52 ton CO₂ per tahun.

Urban Farming Siantar Habonaron Optimalkan Pekarangan Rumah

Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga juga mengembangkan Program Siantar Habonaron di Sumatera Utara melalui Fuel Terminal Pematang Siantar.

Program ini mengusung konsep urban farming terpadu dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah warga.

Masyarakat mengembangkan peternakan ayam petelur, budidaya sayuran, hingga pengelolaan limbah organik.

Selain itu, warga juga mengolah sisa makanan rumah tangga menjadi pakan maggot.

Selanjutnya, maggot tersebut dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak.

Yang menarik, limbah kotoran ayam juga digunakan sebagai media tanam untuk mendukung pertanian rumah tangga.

Dalam konteks tersebut, program ini membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dengan biaya lebih terjangkau.

Pertamina Sebut Ketahanan Pangan Dimulai dari Pemberdayaan

Roberth M.V. Dumatubun
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menegaskan ketahanan pangan dapat dibangun melalui pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Pertamina Patra Niaga meyakini bahwa ketahanan pangan dapat dibangun melalui pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima, Minggu 7 Juni 2026.

Ia menambahkan perusahaan terus menghadirkan program yang mengoptimalkan potensi lokal sekaligus menciptakan manfaat sosial dan lingkungan.

Kami terus menghadirkan program-program yang mengoptimalkan potensi lokal, mendorong kemandirian ekonomi, serta menciptakan manfaat sosial dan lingkungan,” katanya.

Warga Akui Program Bantu Kebutuhan Keluarga

Program tersebut juga mendapat respons positif dari masyarakat penerima manfaat.

Salah satu anggota Kelompok Habonaron, Asih, mengaku bantuan dari Pertamina Patra Niaga membantu kebutuhan pangan keluarganya.

Sejak adanya bantuan dari Pertamina Patra Niaga, kebutuhan sarapan anak saya menjadi terpenuhi dari hasil ternak ini,” ujarnya.

Dampaknya, program berbasis pemberdayaan lokal ini mulai menciptakan pola ketahanan pangan mandiri di tengah masyarakat.