Warga Hazle Township, Pennsylvania, menolak pembangunan data center Amazon Web Services hingga Senin (19/10/2026). Mereka menampik dividen tunai USD 10.000 (sekitar Rp180 juta) per penduduk yang ditawarkan pengembang NorthPoint Development.
Hazle Township merupakan bekas komunitas penambang batu bara di Pennsylvania, Amerika Serikat. Menurut media PennLive, hampir 17 persen penduduk kota tersebut hidup di bawah garis kemiskinan federal. Kondisi ekonomi itu membuat tawaran uang tunai dari pengembang terlihat menggiurkan, tetapi warga memilih jalan berbeda.
Dalam benak masyarakat Amerika Serikat, data center kini menjadi sesuatu yang dibenci. Perusahaan teknologi raksasa pun kesulitan membayar warga agar bersedia menerimanya di lingkungan sekitar.
Pengembang NorthPoint Development menamai kompleks data center tersebut Project Hazelnut. Fasilitas raksasa itu berkaitan dengan Amazon Web Services, penyedia layanan komputasi awan milik Amazon. Warga berorganisasi untuk menolak kompleks tersebut sekaligus bentangan kabel listrik yang akan memasok dayanya.
Penolakan Warga terhadap Data Center Hazle Township
Dividen tunai USD 10.000 atau sekitar Rp180 juta untuk setiap penduduk menjadi daya tarik utama proposal itu. Meski demikian, warga tidak tergoyahkan oleh prospek memperoleh uang dengan cepat. Mereka menilai tawaran tersebut sebagai uang tutup mulut yang nilainya tidak sepadan.
Warga setempat bernama Brian Malloy menyebut skema itu sebagai penyuapan. “Ini seperti penyuapan,” ujarnya, sebagaimana dikutip detikINET dari Futurism.
Pemilik rumah sekaligus pengusaha kecil, Ed Negra, mengungkapkan kekhawatiran serupa. “Nilai properti kami akan anjlok secara drastis. Kalau itu bukan penyuapan, entah apa namanya,” kata Negra. Ia mengibaratkan uang tersebut hanya setetes air di lautan dibandingkan dengan kerugian jika Project Hazelnut berlanjut.
Gerakan penolakan itu berlangsung secara terorganisasi. Warga menolak dua hal sekaligus, yakni kompleks data center dan jaringan kabel listrik. Dengan begitu, perlawanan mereka mencakup bangunan utama serta infrastruktur pendukungnya.
Kontras antara angka kemiskinan dan penolakan uang tunai menegaskan bahwa keberatan warga tidak semata soal nominal. Warga mempersoalkan dampak jangka panjang terhadap nilai properti dan lingkungan tempat tinggal mereka.
Skema Dividen yang Tidak Biasa
Skema USD 10.000 itu merupakan upaya tidak biasa dari pengembang data center. Tujuannya meredam penolakan di negara yang mayoritas warganya sangat menentang fasilitas semacam itu. Direktur eksekutif Komisi Etika Pennsylvania, Mary Fox, mengaku belum pernah melihat pendekatan serupa.
“Kami pikir ini kreatif. Kami belum pernah melihat (yang seperti) ini sebelumnya,” kata Fox. Komentar tersebut menggambarkan betapa jarang pengembang menempuh cara pembayaran langsung kepada warga.
Sikap Pemerintah Negara Bagian
Persoalan ini masih jauh dari selesai. Gelagat para pejabat juga belum membantu memperbaiki keadaan. Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro, misalnya, menggunakan perintah eksekutif untuk mempercepat proses bagi pengembang yang hendak mendirikan fasilitas data center di seluruh Pennsylvania.
Kebijakan percepatan itu berjalan berlawanan arah dengan sikap warga Hazle Township yang menolak proyek tersebut.
Konteks bagi Pembaca Indonesia
Data center adalah fasilitas fisik yang menampung server, perangkat jaringan, dan sistem penyimpanan untuk mengolah data digital. Layanan komputasi awan, mesin pencari, hingga aplikasi kecerdasan buatan bergantung pada fasilitas semacam ini. Karena itu, kebutuhan listrik dan lahannya cenderung besar, sehingga kerap memicu perdebatan di lingkungan sekitar.
Kasus Hazle Township memperlihatkan bahwa penerimaan warga menjadi faktor penting dalam pembangunan infrastruktur digital. Sumber informasi laporan ini adalah PennLive, Futurism, dan detikINET. Kutipan narasumber disampaikan sebagaimana tercantum pada pemberitaan media tersebut.
Perkembangan yang Masih Dinantikan
Hingga laporan ini disusun, data yang dihimpun belum memuat tanggapan resmi dari NorthPoint Development maupun Amazon Web Services. Belum ada pula keterangan mengenai keputusan akhir atas Project Hazelnut. Perkembangan berikutnya bergantung pada sikap pengembang, otoritas setempat, dan kelanjutan gerakan warga.
Penolakan warga Hazle Township memperlihatkan bahwa insentif finansial belum tentu cukup untuk meyakinkan komunitas. Sementara itu, pemerintah negara bagian justru mempercepat proses pembangunan fasilitas serupa. Persoalan ini akan terus berlanjut selama kedua pihak belum menemukan titik temu.