bahasakita.id – TBC Bandung belum menunjukkan penurunan signifikan meski 18.846 kasus telah tercatat sepanjang 2025. Pertanyaannya bukan lagi sekadar berapa jumlahnya, melainkan mengapa tren itu terus meningkat dan apa yang membuat pengendaliannya tidak sederhana.
Secara regional, Kota Bandung menempati posisi kedua kasus TBC terbanyak di Jawa Barat. Di tingkat nasional, Indonesia masih termasuk negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Dalam konteks itu, Bandung menjadi bagian dari persoalan yang lebih besar.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dadan M. Kosasih, menyebut tren kasus terus naik setiap tahun. Artinya, intervensi yang dilakukan selama ini belum cukup kuat untuk membalikkan kurva.
“Secara nasional, Indonesia termasuk negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Di Kota Bandung sendiri, tren kasus meningkat setiap tahunnya,” ujarnya di Balai Kota Bandung, Kamis 19 Februari 2026.
Tren Naik dan Kompleksitas Kasus
Yang kerap luput diperhatikan, TBC tidak selalu hadir dengan gejala khas. Ada pasien tanpa keluhan berarti yang baru terdeteksi setelah skrining. Hal ini membuat angka kasus yang tercatat sangat bergantung pada intensitas penemuan aktif.
Dalam praktiknya, gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, dan keringat malam memang menjadi indikator utama. Namun variasi kasus di lapangan memperlihatkan spektrum yang lebih luas, termasuk pasien dengan keluhan tidak spesifik.
Kompleksitas ini membuat pengendalian tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Diperlukan sistem yang mampu menjangkau masyarakat hingga tingkat wilayah.
Koordinasi Lintas Sektor Jadi Tantangan
Titik tekan berikutnya ada pada koordinasi. Pemerintah Kota Bandung mengundang seluruh camat untuk terlibat aktif dalam penanganan TBC di wilayah masing-masing. Pertemuan tersebut juga dihadiri Sekretaris Daerah dan mendapat dukungan jajaran kewilayahan.
Menurut Dadan, penanganan TBC tidak bisa berdiri sendiri di sektor kesehatan. Ia menilai perlu koordinasi yang lebih intensif antara sektor kesehatan dan kewilayahan agar strategi berjalan efektif.
Strategi 3T dan Keterlibatan Wilayah
Pemerintah daerah mendorong penerapan strategi 3T, yakni testing, tracing, dan treatment. Jika satu orang terdiagnosis, maka orang di sekelilingnya juga harus diperiksa.
Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, menegaskan pengendalian TBC menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat Presiden Republik Indonesia sehingga kewilayahan dilibatkan langsung.
“Kalau satu orang terkena, bukan hanya dia yang dites, tetapi orang-orang di sekelilingnya juga harus diperiksa. Pengobatannya pun harus tuntas, kurang lebih enam bulan dan tidak boleh terputus,” katanya.
Data 18.846 kasus TBC Bandung menunjukkan pekerjaan rumah belum selesai. Koordinasi lintas sektor, kedisiplinan pengobatan enam bulan, serta deteksi aktif menjadi elemen yang saling terhubung dalam upaya menekan angka yang masih bertahan tinggi.
