Sinar Jiwa – Garuda Indonesia tujuan Bengkulu berhenti meski Pemerintah Provinsi Bengkulu telah melakukan lobi langsung ke manajemen maskapai, namun keputusan penghentian rute tetap diberlakukan mulai akhir Maret 2026.
Langkah lobi yang dilakukan pemerintah daerah tidak mampu mengubah keputusan perusahaan yang telah melalui evaluasi bisnis. Rute Bengkulu dinilai belum memenuhi target keberlanjutan operasional.
Upaya Lobi Langsung ke Manajemen
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan mendatangi langsung Kantor Pusat Garuda Indonesia di Garuda Sentra Operasi (GSO) Tangerang, Banten. Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas keberlanjutan penerbangan dari dan menuju Bengkulu.
Dalam pertemuan itu, pemerintah daerah menyampaikan pentingnya keberadaan maskapai nasional tersebut bagi konektivitas wilayah. Terutama dalam mendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah.
Selain itu, Pemprov Bengkulu juga berencana melibatkan berbagai pihak. Koordinasi akan dilakukan bersama Forkopimda, kepala daerah, hingga pelaku usaha untuk memperkuat dukungan terhadap operasional penerbangan.
“Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan akan berupaya mendukung agar Garuda Indonesia tetap hadir,” kata Helmi Hasan.
Namun pada praktiknya, lobi tersebut belum menghasilkan perubahan keputusan dari pihak maskapai. Pertimbangan utama tetap berada pada aspek bisnis yang dinilai belum terpenuhi.
Keputusan Final Berbasis Evaluasi Internal
Manajemen Garuda Indonesia memastikan penghentian operasional rute Bengkulu merupakan keputusan final. Evaluasi internal perusahaan menjadi dasar utama dalam penetapan kebijakan tersebut.
General Manager Garuda Indonesia Perwakilan Bengkulu, Boby Pratama, menyampaikan bahwa tingkat okupansi penumpang menjadi faktor penting. Rute Bengkulu–Jakarta tercatat memiliki tingkat keterisian sekitar 80 persen.
Meski terlihat tinggi, angka tersebut belum mencapai standar maksimal perusahaan. Dalam kondisi tersebut, operasional dinilai berpotensi menimbulkan tekanan bisnis jika terus dilanjutkan.
“Pihak Garuda sudah mempertimbangkan sisi bisnis secara menyeluruh,” ujarnya.
Di sisi lain, Direktur Teknik Garuda Indonesia Mukhtaris juga menegaskan bahwa rendahnya jumlah penumpang secara konsisten menjadi hambatan utama. Kondisi ini berdampak langsung pada keberlanjutan operasional rute.
Layanan Berhenti, Alternatif Masih Tersedia
Penghentian penerbangan Garuda Indonesia di Bengkulu dijadwalkan mulai 28 Maret 2026. Sebelumnya, sempat muncul informasi lain yang menyebutkan tanggal berbeda.
Dalam konteks ini, keputusan yang berlaku mengacu pada jadwal final yang ditetapkan perusahaan. Artinya, layanan Garuda untuk rute tersebut tidak lagi tersedia setelah tanggal tersebut.
Namun demikian, operasional penerbangan di Bengkulu tidak sepenuhnya berhenti. Maskapai Citilink yang merupakan anak usaha Garuda Indonesia masih tetap melayani rute dari dan menuju daerah tersebut.
Di sisi lain, manajemen juga membuka kemungkinan evaluasi ulang di masa mendatang. Kebijakan ini dapat ditinjau kembali jika terjadi perubahan signifikan pada permintaan pasar dan tingkat keterisian penumpang.
