Bahasa Kita – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak sejumlah negara Arab segera menandatangani Abraham Accords sebagai bagian dari upaya perdamaian kawasan Timur Tengah. Desakan itu disampaikan Trump di tengah negosiasi Amerika Serikat dan Iran terkait konflik yang berlangsung sejak Februari 2026.
Donald Trump menyampaikan pernyataan tersebut melalui akun media sosial Truth Social pada Senin, 25 Mei 2026. Dalam unggahannya, Trump mengaku telah berbicara dengan sejumlah pemimpin negara terkait kesepakatan tersebut.
“Setelah semua upaya yang dilakukan Amerika Serikat mencoba menyatukan teka-teki yang sangat kompleks ini, seharusnya wajib bagi semua negara ini, setidaknya secara bersamaan, untuk menandatangani Perjanjian Abraham,” tulis Trump.
Negara yang disebut Trump meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Bahrain.
Yang jadi sorotan, Trump menilai sebagian besar negara tersebut sebenarnya sudah siap untuk melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
Donald Trump Kaitkan Abraham Accords dengan Iran
Dalam pernyataannya, Trump mengaitkan Abraham Accords dengan proses negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut Trump, kesepakatan tersebut dapat menjadi momen yang lebih besar jika negara-negara Arab ikut menormalisasi hubungan dengan Israel.
“[Mereka harus] siap bersedia, dan mampu menjadikan kesepakatan dengan Iran ini sebagai peristiwa yang jauh lebih bersejarah daripada yang seharusnya,” ujarnya.
Trump bahkan mengisyaratkan Iran seharusnya ikut dalam perjanjian tersebut. Padahal, Iran selama ini dikenal sebagai salah satu musuh utama Israel di kawasan Timur Tengah.
Dalam konteks tersebut, Abraham Accords kembali menjadi bagian penting dari strategi diplomasi Trump di Timur Tengah.
Tak hanya itu, Trump juga menyebut proses penandatanganan sebaiknya dimulai dari Arab Saudi dan Qatar. Menurutnya, langkah itu dapat mendorong negara lain mengikuti jejak yang sama.
Apa Itu Abraham Accords?
Abraham Accords merupakan kesepakatan normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara yang sebelumnya memiliki hubungan tegang.
Perjanjian tersebut mulai dipromosikan Trump pada masa jabatan pertamanya sebagai Presiden Amerika Serikat. Fokus utamanya adalah memperluas hubungan diplomatik Israel dengan negara Muslim atau mayoritas Muslim.
Dalam praktiknya, kesepakatan itu bertujuan membuka kerja sama politik, ekonomi, hingga keamanan antarnegara di kawasan Timur Tengah.
Namun pada kenyataannya, Abraham Accords mendapat respons beragam di kawasan Arab. Salah satu alasan utamanya karena perjanjian tersebut tidak membahas isu Palestina secara langsung.
Arab Saudi misalnya, berulang kali menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina menjadi syarat utama sebelum membuka hubungan diplomatik resmi dengan Israel.
Yang menarik, posisi tersebut membuat proses normalisasi hubungan dengan Israel masih menjadi isu sensitif di banyak negara Timur Tengah.
Negosiasi AS dan Iran Masih Berlangsung
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Iran masih menjalani proses negosiasi untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Trump disebut memiliki ambisi besar untuk menghentikan program nuklir Iran. Sementara itu, Iran meminta Amerika Serikat menghormati hak pengayaan uranium mereka.
Dalam perkembangan selanjutnya, proses negosiasi itu menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi dinamika politik Timur Tengah.
Secara garis besar, Trump ingin menjadikan Abraham Accords sebagai bagian dari kesepakatan regional yang lebih luas. Dampaknya, isu normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab kembali menjadi perhatian internasional.
