Harga Minyak Dunia NaikHarga Minyak Dunia Naik

Bahasa Kita – Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin 1 Juni 2026 setelah Iran menghentikan perundingan dengan Amerika Serikat.

Langkah Iran tersebut dipicu meluasnya operasi militer Israel di Lebanon yang memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak dunia juga dipengaruhi meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$3,43 atau 3,8 persen menjadi US$94,55 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI melonjak US$3,87 atau 4,4 persen ke level US$91,23 per barel.

Harga Minyak Dunia Terdorong Konflik Timur Tengah

Iran memutuskan menghentikan pembicaraan dengan Amerika Serikat sebagai bentuk protes terhadap situasi di Lebanon.

Teheran menegaskan perdamaian di Lebanon menjadi salah satu syarat penting dalam proses gencatan senjata.

Di sisi lain, meningkatnya aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat turut memicu kekhawatiran pasar energi global.

Analis IG Tony Sycamore mengatakan perhatian pasar kini tertuju pada Selat Hormuz.

Jalur pelayaran tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.

Bahkan jika kesepakatan tercapai, hal itu tidak akan langsung menciptakan lonjakan pasokan minyak,” kata Sycamore.

Yang jadi sorotan, pasar mulai mengkhawatirkan potensi gangguan distribusi minyak jika konflik di Timur Tengah semakin meluas.

Dalam praktiknya, ancaman terhadap Selat Hormuz dapat memengaruhi stabilitas pasokan energi global.

Iran Sebut Kepercayaan ke AS Menurun

Ketegangan terbaru muncul setelah Washington menjadi tuan rumah perundingan damai Israel-Lebanon pada Jumat lalu.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan segera memutuskan proposal perpanjangan gencatan senjata.

Namun pada kenyataannya, proses diplomatik berjalan lambat akibat situasi keamanan yang memburuk.

Pejabat Amerika Serikat sebelumnya juga telah menawarkan rencana deeskalasi bertahap.

Akan tetapi, Iran menilai rendahnya tingkat kepercayaan terhadap Washington menjadi hambatan utama.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut sikap Amerika Serikat dinilai kontradiktif.

Selain itu, invasi Israel ke Lebanon disebut memperumit proses negosiasi.

Dalam konteks tersebut, Iran terus menegaskan Hizbullah dan Lebanon harus dilibatkan dalam setiap pembicaraan.

Permintaan Lemah Jadi Risiko Harga Minyak

Meski harga minyak dunia saat ini melonjak, pasar masih dibayangi risiko pelemahan permintaan global.

Sepanjang Mei, harga Brent dan WTI sebenarnya mengalami penurunan cukup dalam.

Harga Brent turun sekitar 19 persen, sedangkan WTI melemah 17 persen selama bulan lalu.

Penurunan itu menjadi yang terbesar sejak Maret 2020 saat pandemi Covid-19 menekan permintaan energi global.

Tak hanya itu, survei Reuters menunjukkan Arab Saudi kemungkinan kembali memangkas harga jual resmi minyak untuk pasar Asia.

Pemangkasan harga tersebut diperkirakan terjadi untuk bulan kedua secara berturut-turut.

Sementara itu, Goldman Sachs menilai lemahnya permintaan minyak dari China dan Eropa menjadi ancaman utama pasar energi.

Bank investasi tersebut memperkirakan harga Brent pada kuartal IV bisa turun ke level US$90 per barel.

WTI juga diproyeksikan bergerak di kisaran US$83 per barel jika permintaan global terus melemah.

Meski begitu, Goldman Sachs tetap melihat potensi kenaikan harga minyak dunia akibat risiko gangguan pasokan dari konflik Timur Tengah.