Bahasa Kita – DEFA ASEAN resmi mencapai tahap akhir setelah seluruh negara anggota menyelesaikan proses negosiasi Perjanjian Kerangka Ekonomi Digital ASEAN atau Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Kesepakatan ini menjadi perjanjian ekonomi digital regional pertama yang berhasil dibentuk di kawasan Asia Tenggara.
Penyelesaian negosiasi berlangsung dalam Pertemuan Pejabat Ekonomi Senior ASEAN ke-57 atau Senior Economic Officials Meeting (SEOM) yang digelar di Manila, Filipina, pada 27 hingga 29 Mei 2026.
Seluruh isu yang sebelumnya masih menjadi pembahasan akhirnya berhasil disepakati oleh negara-negara anggota. Dengan demikian, jalan menuju penandatanganan resmi pada November 2026 semakin terbuka.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam upaya memperkuat integrasi ekonomi digital di kawasan ASEAN yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
DEFA ASEAN Jadi Tonggak Baru Ekonomi Digital Kawasan
Ketua Pertemuan Pejabat Ekonomi Senior ASEAN ke-57, Mary Sherylyn Aquia, menyebut penyelesaian negosiasi DEFA sebagai pencapaian bersejarah bagi kawasan.
Menurutnya, perjanjian ini menandai keberhasilan ASEAN dalam membangun kerangka kerja ekonomi digital regional yang pertama. Selain itu, kesepakatan tersebut juga dirancang untuk mendukung ekosistem digital yang aman dan inklusif.
Dalam konteks tersebut, DEFA diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antarnegara anggota ASEAN. Pada saat yang sama, perjanjian ini juga menjadi fondasi bagi pengembangan ekonomi berbasis teknologi di masa mendatang.
Yang menjadi sorotan, seluruh anggota ASEAN berhasil mencapai kesepahaman atas berbagai isu strategis yang sebelumnya belum menemukan titik temu.
Potensi Ekonomi Digital ASEAN Capai Triliunan Dolar AS
DEFA ASEAN tidak hanya menjadi kesepakatan administratif. Lebih jauh, perjanjian ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi kawasan.
Mary Sherylyn Aquia menjelaskan bahwa implementasi DEFA berpotensi mempercepat transformasi digital di berbagai sektor ekonomi. Akibatnya, peluang investasi dan pertumbuhan bisnis digital diperkirakan meningkat.
Berdasarkan proyeksi ASEAN, nilai ekonomi digital kawasan dapat mencapai 1 triliun dolar AS pada tahun 2030.
Bahkan, dalam skenario pertumbuhan yang lebih tinggi, nilainya berpotensi meningkat hingga 2 triliun dolar AS. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, pertumbuhan tersebut diyakini mampu menciptakan lapangan kerja baru. Tak hanya itu, pelaku usaha juga berpeluang memperoleh akses pasar yang lebih luas melalui konektivitas digital yang semakin kuat.
Cakupan DEFA ASEAN yang Disepakati Negara Anggota
Perjanjian DEFA mencakup berbagai aspek penting dalam ekonomi digital modern. Salah satu fokus utama adalah perdagangan digital dan e-commerce lintas batas.
Selain itu, negara anggota juga menyepakati pengaturan terkait privasi data serta identitas digital. Kedua aspek tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat dalam aktivitas ekonomi digital.
Selanjutnya, DEFA mengatur sistem pembayaran elektronik yang semakin berkembang di kawasan ASEAN. Dalam praktiknya, penguatan interoperabilitas pembayaran digital menjadi salah satu prioritas utama.
Yang patut dicermati, keamanan siber dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence juga masuk dalam ruang lingkup perjanjian ini.
Selain itu, mobilitas talenta digital menjadi bagian penting yang diharapkan dapat mendukung kebutuhan tenaga kerja di sektor teknologi.
Bangun Konektivitas Digital Antarnegara ASEAN
DEFA dibangun berdasarkan berbagai inisiatif digital ASEAN yang telah berjalan sebelumnya. Program tersebut mencakup konektivitas pembayaran digital, perlindungan konsumen daring, hingga kerja sama ekonomi berbasis teknologi.
Dengan adanya perjanjian baru ini, ASEAN berharap hambatan perdagangan digital lintas batas dapat berkurang. Karena itu, pelaku usaha dan konsumen diperkirakan memperoleh kemudahan dalam melakukan transaksi digital antarnegara.
Selain memperkuat integrasi ekonomi, DEFA ASEAN juga diharapkan meningkatkan konektivitas digital di seluruh kawasan. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan ekonomi global yang semakin terdigitalisasi.
