Penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab, Anwar Gargash

UEA Desak Akses Selat Hormuz Dijamin dalam Konflik AS-Iran

Bahasa Kita – UEA menegaskan bahwa penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran harus menjamin akses Selat Hormuz, bukan sekadar menghentikan pertempuran sementara. Tekanan ini muncul di tengah eskalasi yang terus berlanjut dan ancaman terhadap jalur energi global yang vital.

Penasihat diplomatik presiden UEA, Anwar Gargash, menyampaikan bahwa jalur pelayaran tersebut tidak boleh dijadikan alat tekanan oleh pihak mana pun. Ia menekankan, kebebasan navigasi harus menjadi bagian utama dalam setiap kesepakatan damai yang dirancang.

Selat Hormuz tidak boleh disandera oleh negara mana pun,” ujarnya.

Selat Hormuz Jadi Titik Tekan Utama UEA

Dalam sudut pandang ini, UEA tidak hanya mendorong berakhirnya konflik, tetapi juga menempatkan akses Selat Hormuz sebagai syarat mutlak dalam penyelesaian. Artinya, penghentian konflik tanpa jaminan akses dinilai belum menyentuh akar persoalan.

Gargash menjelaskan, jalur tersebut memiliki posisi strategis yang tidak bisa diabaikan. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melintas setiap hari melalui kawasan itu. Hal ini membuat setiap gangguan langsung berdampak pada stabilitas ekonomi global.

Pada praktiknya, tekanan terhadap Selat Hormuz akan menciptakan ketidakpastian besar. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara kawasan, tetapi juga pasar energi internasional. Dalam konteks tersebut, UEA melihat perlindungan jalur ini sebagai kebutuhan mendesak.

Kebebasan Navigasi sebagai Syarat Penyelesaian

Lebih jauh, Gargash menegaskan bahwa kebebasan navigasi harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kesepakatan. Ia menilai, pendekatan yang hanya berfokus pada penghentian konflik tanpa menyentuh isu strategis akan menimbulkan risiko baru.

“Kami tidak ingin melihat eskalasi terus terjadi. Tapi kami juga tidak ingin gencatan senjata yang gagal menyelesaikan isu-isu utama,” katanya.

Dengan kata lain, UEA menganggap stabilitas jangka panjang bergantung pada jaminan akses, bukan hanya kesepakatan sementara.

Risiko Gencatan Senjata Tanpa Solusi Menyeluruh

Yang jadi sorotan, UEA menilai gencatan senjata tanpa penyelesaian komprehensif justru berpotensi memperburuk situasi. Dalam kerangka itu, konflik bisa kembali meletus dengan intensitas lebih tinggi.

Gargash menyinggung bahwa sejumlah isu krusial masih menjadi sumber ketegangan. Program nuklir Iran serta penggunaan rudal dan drone disebut masih menjadi ancaman bagi negara-negara di kawasan.

Di sisi lain, situasi ini juga memicu dinamika baru dalam hubungan keamanan regional. Ia menilai langkah Iran dapat memperkuat aliansi negara-negara Teluk dengan Amerika Serikat.

Tekanan dan Eskalasi di Lapangan

Di waktu yang sama, Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Ia mengancam akan mengambil langkah keras jika akses Selat Hormuz tidak dibuka kembali sebelum tenggat yang ditentukan.

Konflik ini telah berlangsung lebih dari lima minggu. Ketegangan bermula dari serangan awal AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari, setelah negosiasi nuklir mengalami kebuntuan.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke berbagai target, termasuk fasilitas energi di kawasan Teluk. Imbasnya, jalur distribusi energi global ikut terdampak.

Dalam perkembangan tersebut, UEA menyebut situasi saat ini sebagai skenario terburuk yang sebelumnya telah diantisipasi. Meski begitu, negara tersebut menilai masih mampu bertahan di tengah tekanan yang berlangsung.