Bareskrim Polri turun tangan memburu bandar narkoba di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, setelah Aipda Yudhie Perdana Putra gugur saat operasi penangkapan. Selain memburu pelaku, tim gabungan juga masih mencari dua anggota polisi yang belum ditemukan.
Bareskrim Polri memberikan dukungan penuh kepada Polda Kalimantan Tengah dan Polres Katingan dalam penanganan kasus penyerangan terhadap personel Satresnarkoba Polres Katingan saat operasi pemberantasan narkotika di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan.
Langkah tersebut diambil setelah Aipda Yudhie Perdana Putra meninggal dunia saat menjalankan tugas. Selain itu, dua anggota polisi lainnya hingga kini masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum Aipda Yudhie yang gugur ketika melaksanakan tugas pemberantasan narkotika.
Bareskrim Beri Dukungan Penuh untuk Operasi di Katingan
Eko menegaskan Bareskrim Polri akan memberikan dukungan penuh kepada jajaran di Kalimantan Tengah dalam menangani perkara tersebut.
Dukungan itu mencakup pencarian dua anggota Satresnarkoba yang masih hilang, pengamanan wilayah, hingga pengungkapan jaringan peredaran narkotika beserta pelaku penyerangan terhadap personel Polri.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar proses penegakan hukum berjalan maksimal sekaligus menjaga keamanan personel yang bertugas di lapangan.
Kronologi Operasi Penangkapan Bandar Narkoba
Peristiwa bermula pada Rabu (1/7) malam ketika Satresnarkoba Polres Katingan menerima informasi masyarakat mengenai dugaan peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei.
Hasil penyelidikan kemudian mengarah kepada seorang target operasi berinisial BIO yang diketahui merupakan residivis kasus narkotika.
Sebanyak 12 personel diterjunkan dalam operasi tersebut. Tim dibagi menjadi dua kelompok, yakni satu tim melakukan penindakan di rumah target dan tim lainnya bersiaga sebagai unsur pendukung.
Pada awal operasi, target berhasil diamankan. Namun situasi berubah ketika sejumlah orang di dalam rumah bersama warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam berupa parang.
Serangan Massa Berujung Korban Jiwa
Situasi di lokasi semakin memanas karena jumlah massa terus bertambah. Selain menggunakan senjata tajam, massa juga melakukan penyerangan memakai senjata api rakitan.
Akibat kondisi yang semakin tidak terkendali, personel berusaha menyelamatkan diri sambil meminta bantuan tambahan. Beberapa anggota bahkan berenang menyeberangi sungai dan berlindung di kawasan hutan untuk menghindari serangan.
Dalam insiden tersebut, Aipda Yudhie Perdana Putra ditemukan meninggal dunia dengan luka akibat senjata tajam.
Sementara itu, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana hingga kini masih dalam pencarian oleh tim gabungan.
Bareskrim Evaluasi Operasi Pemberantasan Narkotika
Bareskrim Polri menyatakan seluruh operasi pemberantasan narkotika akan menjadi bahan evaluasi agar kesiapan personel semakin optimal.
Evaluasi meliputi perencanaan operasi, pemetaan potensi ancaman, kesiapan jumlah personel, hingga kelengkapan perlengkapan sebelum pelaksanaan penindakan.
Menurut Brigjen Eko Hadi Santoso, keselamatan anggota tetap menjadi prioritas tanpa mengurangi ketegasan aparat dalam memberantas jaringan peredaran narkotika.
