Negosiasi AS-Iran memasuki fase baru setelah Iran memperingatkan bahwa pembicaraan damai tidak akan berlanjut apabila ancaman militer dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus disampaikan. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Negosiasi AS-Iran kembali menghadapi tantangan setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan proses menuju kesepakatan akhir tidak akan dimulai apabila ancaman terhadap negaranya terus berlanjut.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui media sosial X sebagai respons atas peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer apabila diplomasi mengalami kebuntuan.
Menurut Araghchi, nota kesepahaman atau MoU Islamabad telah memuat ketentuan yang mengatur jalannya proses diplomasi. Karena itu, ia meminta seluruh pihak menghormati isi kesepakatan yang telah ditandatangani.
Ia menegaskan Pasal 13 dalam MoU secara jelas menyatakan bahwa pembahasan menuju kesepakatan final tidak dapat dimulai apabila ancaman masih terus berlangsung.
Pernyataan Trump Tambah Tekanan Diplomasi Iran-AS
Di sisi lain, Trump menegaskan pemerintahannya tetap mengutamakan penyelesaian melalui jalur diplomasi. Namun, ia menyatakan Amerika Serikat siap mengambil langkah militer apabila negosiasi gagal mencapai hasil.
Selain itu, Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ia juga menyebut Amerika Serikat memiliki kemampuan menyerang berbagai infrastruktur penting Iran apabila situasi mengharuskannya.
Pernyataan kedua pihak muncul ketika situasi keamanan di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia. Laporan mengenai serangan terhadap kapal komersial menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
MoU Islamabad sendiri ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Donald Trump pada pertengahan Juni. Kesepakatan itu membuka masa diplomasi selama 60 hari melalui perundingan tidak langsung yang dimediasi Pakistan dan Qatar.
Hingga kini, proses negosiasi masih berlangsung. Namun, saling peringatan antara Washington dan Teheran menunjukkan hubungan kedua negara tetap berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
