Gus Kikin atau KH Abdul Hakim MahfudzProfil Gus Kikin, Pengasuh Tebuireng yang didukung PWNU Jawa Timur maju sebagai calon Ketua Umum PBNU 2026 dengan pengalaman

Profil Gus Kikin menjadi perhatian menjelang Muktamar ke-35 NU setelah PWNU Jawa Timur resmi menugaskannya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini memiliki rekam jejak pesantren, nasab kuat dengan pendiri NU, serta pengalaman memimpin bisnis nasional.

Nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin semakin banyak diperbincangkan di kalangan Nahdliyin menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Dukungan terhadap dirinya menguat setelah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur secara resmi menunjuknya sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Keputusan tersebut muncul dalam rapat persiapan Muktamar NU yang berlangsung di Surabaya pada 21 Juli 2026. Menurut informasi yang berkembang, dukungan kepada Gus Kikin berasal dari aspirasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur.

Dengan posisi Jawa Timur sebagai basis massa terbesar NU, dukungan tersebut membuat nama Gus Kikin masuk dalam jajaran figur yang diperhitungkan menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU.

Nasab Gus Kikin Terhubung dengan Pendiri NU

Salah satu faktor yang membuat sosok Gus Kikin mendapat perhatian adalah latar belakang keluarganya. Ia memiliki hubungan nasab yang kuat dengan para tokoh penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama.

Gus Kikin merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Dari jalur ibu, ia merupakan cucu Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratus Syaikh KH M Hasyim Asy’ari yang dikenal sebagai pendiri NU.

Sementara itu, dari garis ayah, nasabnya tersambung kepada KH Anwar bin Alwi, pendiri Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang. Kedekatan genealogis tersebut membuat Gus Kikin memiliki akar historis dan kultural yang kuat di lingkungan pesantren maupun organisasi NU.

Dalam konteks tersebut, banyak warga Nahdliyin mengenalnya sebagai figur yang tumbuh dalam tradisi keilmuan pesantren yang kuat.

Memimpin Pesantren Tebuireng dengan Jaringan Nasional

Gus Kikin saat ini menjabat sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia melanjutkan estafet kepemimpinan setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Sebelum berpulang, Gus Sholah telah mempersiapkan proses regenerasi kepemimpinan pesantren. Bahkan, sejak 2016 keluarga besar Tebuireng telah melakukan musyawarah terkait keberlanjutan kepengasuhan pesantren.

Di bawah kepemimpinan Gus Kikin, Tebuireng terus berkembang. Saat ini pesantren tersebut memiliki 15 cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Cabang-cabang itu berada di sejumlah daerah seperti Riau, Jakarta, Maluku, hingga Kalimantan Timur. Karena itu, pengalaman mengelola lembaga pendidikan berskala nasional menjadi salah satu modal penting yang dimiliki Gus Kikin.

Latar Belakang Pengusaha dan Pengalaman Manajerial

Yang menarik, Gus Kikin tidak hanya dikenal sebagai ulama dan pengasuh pesantren. Ia juga memiliki pengalaman panjang di dunia usaha.

Secara faktual, ia merupakan pemilik PT Energi Mineral Langgeng (EML), perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi. Aktivitas bisnis tersebut memberinya pengalaman dalam pengelolaan organisasi dan pengambilan keputusan strategis.

Selain itu, Gus Kikin juga terlibat di industri media melalui kepemilikan BBS TV. Kombinasi pengalaman pesantren dan dunia usaha membuat namanya sering dikaitkan dengan agenda transformasi digital serta penguatan ekonomi warga Nahdliyin.

Dua isu tersebut menjadi bagian penting yang akan mendapat perhatian dalam Muktamar NU 2026.

Sikap Gus Kikin Usai Mendapat Dukungan

Menanggapi penugasannya sebagai calon Ketua Umum PBNU, Gus Kikin menyatakan kesiapannya. Ia menegaskan pentingnya menyiapkan berbagai gagasan besar untuk meningkatkan kualitas organisasi di masa mendatang.

Dampak yang diharapkan NU akan semakin baik. Kita akan mempersiapkan diri agar bisa mengusulkan pikiran-pikiran baik demi kinerja yang baik juga,” kata Gus Kikin.

Sementara itu, sesuai tradisi organisasi, setiap calon Ketua Umum PBNU perlu memperoleh sedikitnya 99 suara dukungan agar dapat masuk dalam bursa pemilihan.

Muktamar ke-35 NU sendiri akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27 hingga 31 Agustus 2026. Dengan dukungan kuat dari Jawa Timur, Gus Kikin menjadi salah satu nama yang mendapat perhatian menjelang forum tertinggi organisasi tersebut.