Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. (Instagram Yahya Cholil Staquf)

Gus Yahya dan Tafsir Krisis PBNU: Pertarungan Konstitusi di Tubuh Organisasi Tertua Nusantara

bahasakita.id — Konflik internal PBNU kembali menonjolkan bagaimana tradisi musyawarah yang menjadi ciri organisasi berusia satu abad ini diuji oleh dinamika kepemimpinan. Dalam forum daring, Sabtu (22/11/2025), Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf menilai Syuriah mengambil langkah non-prosedural dalam upaya mendesaknya mundur.

Sejak awal pertemuan sudah dinyatakan ada keinginan untuk memberhentikan saya,” ujarnya, menyinggung absennya ruang klarifikasi. Pernyataan ini membuka pembacaan yang lebih luas: bahwa konstitusi organisasi sedang berada dalam negosiasi internal yang tajam.

Risalah rapat Syuriah tertanggal 20 November 2025 menunjukkan pertemuan tanpa Tanfidziyah dan tanpa mekanisme pembuktian formal. Dalam sejarah panjang NU, keputusan mengenai kepemimpinan biasanya berada dalam bingkai musyawarah—sebuah konsep jamak dalam tradisi pesantren yang mengedepankan keseimbangan antara otoritas dan kolegialitas.

Beberapa pengurus pusat menilai langkah sepihak tersebut berpotensi merusak struktur transformasi empat tahun terakhir. Kesan bahwa keputusan diambil tergesa memperluas ruang tafsir politik menjelang Muktamar.

Krisis kali ini memperlihatkan betapa rapuhnya garis batas antara tradisi organisasi, kepemimpinan, dan dinamika politik internal. Konsolidasi kembali menjadi kata kunci untuk merawat keberlanjutan PBNU. (*)