Kualitas sperma pria turut menjadi sorotan setelah sejumlah riset mengaitkan polusi udara dengan perubahan parameter semen dan risiko gangguan kesuburan.
Kualitas sperma pria menghadapi ancaman dari paparan polusi udara. Temuan terbaru menunjukkan sejumlah pencemar dapat memengaruhi parameter semen dalam periode tertentu.
Analisis paparan polutan selama 90 hari mencatat hubungan antara beberapa senyawa dengan kondisi sperma. Data tersebut mencakup SO2, O3, PM2.5, PM10, dan NO2.
SO2 memiliki hubungan dengan morfologi sperma. Sementara itu, O3 berkaitan dengan motilitas progresif serta vitalitas sperma.
Kualitas Sperma Pria Berkaitan dengan Paparan Polutan
PM2.5, PM10, dan NO2 juga menunjukkan hubungan dengan morfologi sperma. Selain itu, O3 dan NO2 berkaitan dengan indeks kelainan bentuk sperma.
Dalam praktiknya, temuan tersebut mendapat dukungan dari penelitian hewan yang terbit di jurnal JAMA Network. Riset itu mengindikasikan polutan udara dapat mengganggu pematangan sperma.
Yang patut dicatat, ukuran partikel turut memengaruhi risiko. Partikel yang lebih kecil menunjukkan risiko kerusakan kualitas sperma yang lebih tinggi.
Asap Kebakaran Masuk ke Aliran Darah
Di sisi lain, asap kebakaran membawa partikel pencemar yang masuk melalui sistem pernapasan. Zat beracun kemudian dapat masuk ke aliran darah.
Selanjutnya, zat tersebut menyebar ke seluruh tubuh dan berpotensi mengganggu organ vital. Testis menjadi salah satu organ yang mendapat perhatian karena berperan dalam pembentukan sperma.
Penelitian University of Washington sebelumnya menganalisis 84 pria yang menjalani IUI. Sampel air mani berasal dari periode kabut asap pada 2018 hingga 2022.
Hasil penelitian dalam Fertility and Sterility menunjukkan penurunan jumlah total sperma. Konsentrasi dan motilitas sperma juga mengalami penurunan.
Dampaknya turut terlihat pada hasil reproduksi kelompok tersebut. Tingkat kehamilan mencapai 11 persen, sedangkan tingkat kelahiran hidup berada di angka 9 persen.
Menurutnya, peningkatan frekuensi dan intensitas kebakaran membuat dampak kesehatan reproduksi perlu mendapat perhatian. Pernyataan itu disampaikan Dr. Tristan Nicholson dari University of Washington.
Faktanya, WHO mencatat prevalensi infertilitas global mencapai 15 persen. Kondisi tersebut berdampak pada sekitar 60 hingga 80 juta pasangan di seluruh dunia.
Lebih jauh, faktor pria menyumbang sekitar 40 hingga 70 persen dari total kasus ketidaksuburan. Karena itu, peneliti mendorong peningkatan kesadaran terhadap bahaya paparan asap.
