Amerika Iran

Amerika dan Iran di Persimpangan: Strategi Donald Trump Antara Negosiasi dan Serangan

bahasakita.id – Amerika dan Iran kembali berada di titik genting. Presiden membuka peluang pertemuan langsung dengan Pemimpin Tertinggi . Namun pada saat yang sama, Washington mengerahkan kapal induk tambahan ke Timur Tengah. Dua arah kebijakan berjalan bersamaan. Diplomasi dibuka, opsi militer disiapkan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Trump bersedia bertemu siapa pun demi menyelesaikan konflik. “Negara-negara perlu berinteraksi satu sama lain—saya bertugas di bawah presiden yang bersedia bertemu dengan siapa pun,” ujarnya kepada Bloomberg, Minggu (15/2/2026). Ia menambahkan bahwa jika Ayatollah meminta pertemuan, presiden akan menerimanya.

Namun di waktu bersamaan, kapal induk bergerak menuju kawasan dan akan bergabung dengan . Pengiriman itu memperkuat kehadiran militer Amerika di sekitar Iran. Secara faktual, pengerahan dilakukan saat negosiasi masih berlangsung.

Dua Jalur Kebijakan Amerika terhadap Iran

Dalam praktiknya, Washington menjalankan dua pendekatan sekaligus. Jalur pertama adalah diplomasi. Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu perwakilan Iran di Jenewa dengan Oman sebagai mediator. Pembicaraan sebelumnya juga digelar di Oman pada 6 Februari.

Jalur kedua adalah persiapan militer. Dua pejabat AS menyebut Pentagon menyiapkan skenario operasi berkelanjutan yang bisa berlangsung berminggu-minggu jika diperintahkan. Perencanaan kali ini dinilai lebih kompleks dibanding bentrokan sebelumnya.

Trump sendiri berbicara di Fort Bragg pada Sabtu (14/2/2026). Ia menyatakan, “Saya akan bilang mereka ingin berbicara, tetapi sejauh ini mereka banyak bicara dan tidak ada tindakan.” Ia juga mengingatkan bahwa alternatif selain diplomasi akan “sangat traumatis.”

Kalkulasi Risiko dan Batas Kapasitas

Sebagai catatan, pada Juni lalu AS meluncurkan operasi “Midnight Hammer” dengan pembom siluman yang menyerang fasilitas nuklir Iran. Iran membalas secara terbatas dengan menyerang pangkalan AS di Qatar. Operasi tersebut bersifat satu kali.

Kini, skenario jangka panjang membawa risiko berbeda. Iran memiliki ribuan rudal dan pesawat nirawak yang mampu menjangkau pangkalan AS di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, hingga Turki. Para pejabat pertahanan memperkirakan pembalasan akan terjadi jika serangan diluncurkan.

Di sisi lain, Iran menyatakan siap membahas pembatasan program nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi. Namun Teheran menolak mengaitkan isu tersebut dengan program rudalnya. Perdana Menteri Israel juga menegaskan setiap kesepakatan harus mencakup kepentingan vital Israel.

Pada titik ini, kebijakan luar negeri Amerika terhadap Iran berada di persimpangan. Negosiasi terus berjalan. Armada militer diperkuat. Donald Trump menempatkan diplomasi dan tekanan dalam satu kerangka yang sama.