BNPB mencatat 44.767 unit rumah rusak akibat gempa NTT. Warga terdampak kini bisa memilih dari tiga skema pembangunan hunian tetap sesuai kebutuhan mereka.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 44.767 unit rumah di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerusakan akibat gempa bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada Agustus lalu. Angka tersebut merupakan data sementara yang telah terverifikasi hingga 27 September 2026, mencakup kerusakan berat, sedang, dan ringan.
Gempa yang mengguncang NTT berdampak pada tujuh kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ende, Ngada, Sikka, dan Flores Timur. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, mengatakan pihaknya terus mempercepat realisasi bantuan bagi warga terdampak di tujuh wilayah tersebut.
Tiga Skema Huntap bagi Korban Gempa NTT
Untuk menangani besarnya jumlah rumah rusak ini, BNPB menawarkan tiga skema pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga yang rumahnya rusak berat. Skema pertama adalah komunal atau relokasi terpusat dalam satu kawasan pemukiman baru. Skema kedua adalah in situ, yakni pembangunan dilakukan di atas tapak lahan asal milik warga. Sementara skema ketiga adalah mandiri, mirip skema in situ namun dibangun di atas tanah milik sendiri yang berada di lokasi baru.
Suharyanto menegaskan bahwa warga berhak meminta agar hunian tetap pengganti rumah mereka dibangun di atas lahan milik sendiri sesuai preferensi masing-masing keluarga terdampak.
"Skema bantuan tersebut meliputi bantuan pembangunan hunian sementara (huntara), hunian tetap (huntap), distribusi Dana Tunggu Hunian (DTH), dan Dana Stimulan Rumah Rusak Ringan dan Sedang," kata Suharyanto seperti dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (2/10).
Spesifikasi Huntara dan Huntap
Spesifikasi hunian sementara yang dibangun BNPB memiliki luas 4x6 meter dengan satu kamar dan satu kamar mandi atau toilet. Sementara hunian tetap dibangun setara dengan rumah tipe 36 yang dilengkapi dua kamar tidur, satu ruang tamu, dan satu kamar mandi.
"Sembari pendataan berlangsung, proses pembangunan huntara dan huntap sudah dilakukan. Bahkan sudah cukup banyak huntara yang pembangunannya selesai 100 persen," ucap Suharyanto.
Berdasarkan data yang dimutakhirkan pada 28 September 2026, target penerima Dana Tunggu Hunian dan huntara mencapai 4.008 penerima, dengan estimasi total pembiayaan sekitar Rp136,2 miliar. Sementara progres pembangunan huntara per 29 September 2026 mencatat 124 unit telah rampung, 861 unit masih dalam pengerjaan di bawah 50 persen, 117 unit sudah di atas 50 persen, dan 299 unit lainnya masih dalam tahap penyiapan lahan serta droping material.
Dengan jumlah rumah rusak yang mencapai puluhan ribu unit, BNPB menyatakan akan terus mengebut proses verifikasi dan pencairan dana agar warga terdampak dapat segera memiliki tempat tinggal yang layak.