Operasi modifikasi cuaca di Kalimantan berhasil memicu hujan di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan pada Minggu (25/10/2026). TNI Angkatan Udara bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengerahkan lima pesawat dari Lanud Syamsudin Noor untuk mendukung operasi tersebut.
Hujan buatan ini menjadi kabar baik bagi warga Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang sepekan terakhir diselimuti kabut asap. Kebakaran hutan dan lahan di dua provinsi tersebut belum sepenuhnya padam meski petugas gabungan terus bekerja di lapangan.
Sejumlah warga di Palangka Raya dan Banjarmasin sempat mengeluhkan kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap. Hujan hasil modifikasi cuaca ini diharapkan turut membersihkan udara yang sebelumnya diselimuti partikel pekat.
Lima Pesawat TNI AU Dikerahkan dari Lanud Syamsudin Noor
Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Syamsudin Noor, Hilman, memimpin langsung pengawalan operasi modifikasi cuaca pada Minggu (25/10/2026). Lima pesawat lepas landas serentak dari Apron Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru.
Pesawat Hercules C-130 menyemai 4,8 ton garam, sementara pesawat CN-295 membawa 2 ton garam ke titik sasaran. Total bahan semai yang digunakan dalam operasi tersebut mencapai lebih dari 10 ton natrium klorida dan dry ice.
Hilman menegaskan timnya terus "mengejar momentum pembentukan awan secara optimal di target sasaran" selama operasi berlangsung. Ia menambahkan, seluruh alutsista dan fasilitas pendukung akan disiagakan hingga ancaman karhutla benar-benar tuntas.
Hujan Guyur Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan
Hasil operasi modifikasi cuaca Kalimantan mulai terlihat sejak akhir pekan lalu. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan hujan sudah turun di beberapa wilayah sasaran.
Menurut Berton, seperti dikutip Kompas.com, "Pada 23 Oktober, hujan ringan hingga sedang dilaporkan terjadi di tujuh kabupaten" wilayah terdampak karhutla. Hujan serupa juga sempat mengguyur Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, pada waktu yang bersamaan.
BNPB memastikan ritme operasi darat, udara, dan patroli pemantauan tetap dijaga. Momentum cuaca basah ini dimanfaatkan untuk memutus rantai potensi kebakaran susulan di wilayah rawan.
Luas Karhutla di Kalimantan Masih Capai Ribuan Hektare
Meski hujan sudah turun, luas lahan yang masih ditangani akibat karhutla terbilang besar. BNPB mencatat total 3.392 hektare lahan di Kalimantan masih dalam penanganan hingga 25 Oktober 2026.
Rinciannya, Kalimantan Tengah menjadi wilayah terluas dengan 2.458 hektare terbakar. Kalimantan Barat menyusul dengan 884 hektare, sedangkan Kalimantan Selatan tercatat 52 hektare.
Secara nasional, luas karhutla di Kalimantan dan Sumatera mencapai 4.382 hektare. Pemerintah telah menghabiskan 14,3 ton bahan semai melalui 15 kali penerbangan hingga 23 Oktober 2026 untuk menekan angka tersebut.
BMKG Sebut Modifikasi Cuaca Efektif Redam Titik Api
Kepala BMKG, Teuku Faisal, menilai operasi modifikasi cuaca Kalimantan berjalan efektif menekan sebaran titik panas. Ia menyebut pelaksanaan operasi kini dilakukan secara masif di sejumlah provinsi.
Sembilan pesawat dikerahkan untuk wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, sementara enam pesawat lainnya beroperasi di Sumatera Selatan. Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan prinsip kerja teknologi tersebut.
Ia menegaskan, seperti dikutip Detik.com, "Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia". Penyemaian awan hanya efektif dilakukan apabila kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan.
BMKG memprediksi sebagian wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027 mendatang.
Operasi modifikasi cuaca Kalimantan terbukti membantu mempercepat penanganan karhutla di tengah musim kemarau panjang. Pemerintah dipastikan terus mengoptimalkan setiap peluang cuaca demi memutus rantai kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.