Ekbis

Harga Emas Dunia Melesat 0,21% Usai Harga Minyak Anjlok

harga emas dunia melesat
harga emas dunia melesat

Harga emas dunia melesat 0,21 persen menjadi USD4.203,30 per ons pada Senin, 12 Oktober 2026. Kenaikan itu terjadi di tengah pelemahan harga minyak dunia, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata energi Rusia-Ukraina akhir pekan lalu.

Selain harga emas di pasar spot, kontrak emas berjangka Amerika Serikat turut menguat pada hari yang sama. Mengutip data Vibiznews, kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup naik 0,43 persen ke level USD4.234,50 per ons.

Harga Emas Dunia Melesat Seiring Anjloknya Harga Minyak

Harga minyak dunia tercatat melemah signifikan pada awal pekan tersebut. Pelemahan itu terjadi setelah Rusia dan Ukraina sepakat menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing pada akhir pekan sebelumnya. Kesepakatan itu turut membuka peluang pulihnya pasokan energi global secara bertahap.

Penurunan harga minyak biasanya meredakan kekhawatiran inflasi di pasar global. Kondisi tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga agresif ikut mereda, sehingga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai kembali meningkat. Emas memang tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga pergerakannya sensitif terhadap arah suku bunga.

Harga emas dunia umumnya diperdagangkan dalam satuan troy ounce, yakni ukuran berat standar internasional untuk logam mulia. Satu troy ounce setara dengan sekitar 31,1 gram, sedikit lebih berat dibandingkan ons biasa.

Analis Proyeksikan Arah Pergerakan Harga Emas

Analis dari Vibiz Research Center turut memberikan pandangan terkait arah pergerakan harga emas selanjutnya. Mereka menilai sejumlah faktor masih dapat membebani maupun menopang harga logam mulia tersebut dalam waktu dekat.

"Kenaikan harga minyak dan imbal hasil Treasury AS yang tinggi juga dapat menekan emas. Namun harga emas dapat bergerak naik jika dolar AS melemah terpicu sinyal positif dari diplomasi AS-Iran, atau jika data CPI AS terealisir di bawah perkiraan," tulis analis Vibiz Research Center dalam catatan risetnya, dikutip Senin, 12 Oktober 2026.

Investor Menanti Data Inflasi dan Suku Bunga The Fed

Pelaku pasar turut mencermati jadwal rilis data inflasi Amerika Serikat dalam beberapa hari mendatang. Data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) periode September dijadwalkan terbit pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Konsensus pasar memperkirakan inflasi utama naik 0,6 persen secara bulanan atau 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan naik 0,2 persen pada periode yang sama.

Selain itu, investor juga menanti pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) milik bank sentral AS. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026 dan berpotensi menentukan arah suku bunga acuan AS selanjutnya.

Harga Emas Antam di Pasar Domestik Ikut Menguat

Penguatan harga emas dunia turut terasa di pasar domestik Indonesia. Mengutip Fortune Indonesia, harga emas batangan Antam di Logam Mulia naik Rp2.000 menjadi Rp2.594.000 per gram pada Senin, 12 Oktober 2026.

Harga buyback atau harga jual kembali emas Antam turut menguat Rp7.000 menjadi Rp2.408.000 per gram pada hari yang sama. Kenaikan itu melanjutkan tren positif harga emas Antam selama beberapa hari terakhir.

Sementara itu, Bisnis.com melaporkan harga emas Antam di Pegadaian pada 12 Oktober 2026 relatif stagnan. Harga jual tercatat Rp2.631.000 per gram, sedangkan harga buyback berada di level Rp2.360.000 per gram.

Dampak Penguatan Harga Emas bagi Investor

Penguatan harga emas dunia memberikan dampak langsung bagi investor yang menempatkan dananya pada instrumen logam mulia. Nilai portofolio investor emas berpotensi ikut terdongkrak seiring kenaikan harga acuan di pasar global.

Sebaliknya, pelemahan harga minyak turut membawa dampak bagi investor di sektor energi. Saham maupun instrumen yang berkorelasi dengan komoditas minyak berisiko tertekan akibat penurunan harga tersebut.

Para analis menyarankan investor tetap mencermati perkembangan geopolitik serta data ekonomi AS sebelum mengambil keputusan investasi. Diversifikasi portofolio dinilai penting mengingat volatilitas harga emas dan minyak masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.

Secara keseluruhan, penguatan harga emas dunia pada awal pekan itu tidak lepas dari redanya ketegangan geopolitik dan pelemahan harga minyak. Investor kini bersiap mencermati data inflasi serta keputusan suku bunga The Fed dalam beberapa pekan mendatang.