Ekbis

BI Rate 5,75 Persen Ditahan, Ini Alasan dan Jurus Jaga Kurs

BI Rate 5,75 persen dipertahankan karena inflasi umum 3,19 persen masih terkendali, sementara BI menyiapkan repo bersama SMF mulai Oktober.
BI Rate 5,75 persen dipertahankan karena inflasi umum 3,19 persen masih terkendali, sementara BI menyiapkan repo bersama SMF mulai Oktober.

BI Rate 5,75 persen dipertahankan Bank Indonesia pada September 2026 meski The Fed menaikkan suku bunga dan harga minyak melonjak. Gubernur Destry Damayanti menegaskan inflasi menjadi jangkar utama keputusan tersebut.

Pertanyaan mengapa BI tidak ikut menaikkan suku bunga dijawab langsung Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (28/9). Ia menyebut BI telah melakukan asesmen dan stress analysis untuk melihat dampak kenaikan BI Rate maupun pergerakan rupiah terhadap pertumbuhan ekonomi.

Alasan BI Rate 5,75 Persen Belum Dinaikkan

Menurut Destry, kondisi inflasi masih membuat BI nyaman. Inflasi umum tercatat 3,19 persen, sementara inflasi inti berada di sekitar 2 persen, sehingga tekanan permintaan domestik dinilai belum menjadi persoalan.

Inflasi umum, lanjutnya, terutama datang dari harga pangan bergejolak. Karena itu, pengendaliannya tidak bisa hanya bertumpu pada suku bunga. "BI tidak bisa sendirian. Ini mengapa ke depan koordinasi itu is a must," ujar Destry.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai level tersebut masih cukup menarik bagi aset rupiah. Kombinasi inflasi yang terjaga itu, menurutnya, memberi ruang bagi BI menggunakan instrumen yang lebih terarah ketimbang langsung menaikkan suku bunga.

Jurus BI Menjaga Nilai Tukar Rupiah

Untuk menahan tekanan kurs, BI akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa dan kecukupan likuiditas melalui repo operasi moneter untuk surat berharga non-SBN. Operasi repo tersebut telah dipersiapkan dan dilakukan bersama PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mulai Oktober 2026.

BI juga akan memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing, termasuk mendorong diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi internasional. "Kita perlu melakukan diversifikasi dari mata uang valas lainnya dalam rangka mendukung kegiatan ekspor ataupun investasi Indonesia," ucap Destry.

Transaksi dengan Local Currency Transaction (LCT) disebut terus tumbuh, tetapi volumenya perlu diikuti penguatan likuiditas mata uang terkait. Karena itu, BI mendorong likuiditas renminbi China dan yen Jepang serta memperluas produk lindung nilai atau hedging bagi investor asing dan pelaku pasar.

Tantangan Global yang Belum Usai

Di luar langkah domestik, BI akan memperluas kerja sama pembayaran lintas negara dan memperkuat kerja sama dengan bank sentral negara mitra. Langkah itu ditujukan untuk memperkuat ketahanan eksternal di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.

Tantangannya memang tidak ringan. Harga minyak mentah pada 24 September 2026 mencapai US$125,53 per barel, sedangkan inflasi global 4,6 persen. "Jadi kesimpulannya di global kita akan hadapi situasi atau fenomena higher for longer," ujar Destry.

Dengan demikian, keputusan menahan suku bunga bukan berarti BI berpangku tangan. Bank sentral memadukan stabilitas nilai tukar, penguatan pasar keuangan, dan dukungan pada pertumbuhan, sambil menunggu arah kebijakan The Fed pada kuartal IV 2026.