Ekbis

Standalone Market MSCI: Bobot RI Turun ke 0,43 Persen

Market MSCI
Market MSCI

Hingga Sabtu (24/10/2026), usulan standalone market MSCI bagi Indonesia masih berada pada tahap konsultasi publik dan belum final. Data MSCI menunjukkan bobot Indonesia di indeks pasar berkembang turun ke 0,43 persen, sedangkan Bursa Efek Indonesia meminta klarifikasi.

MSCI mengumumkan pembukaan konsultasi publik pada 15 Oktober 2026, atau 16 Oktober dini hari waktu Indonesia. Menurut OCBC Wealth Management, usulan itu menggeser Indonesia langsung dari emerging market ke standalone market tanpa singgah di frontier market. Katadata mengutip pernyataan MSCI yang menyebut klasifikasi emerging market bagi Indonesia "tidak lagi sesuai". Alasan utamanya mencakup kekhawatiran terhadap tata kelola, transparansi, dan investabilitas pasar saham. Investabilitas berarti kemudahan investor global membeli dan menjual saham di pasar tersebut.

Tahapan Konsultasi Standalone Market MSCI

Kabar Bursa dan Investortrust mencatat tenggat masukan konsultasi jatuh pada 30 April 2027. MSCI menjadwalkan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027. Bila usulan standalone market tidak berlanjut, Bisnis.com melaporkan MSCI membuka opsi menurunkan Indonesia ke frontier market.

Standalone market adalah kategori bagi pasar yang tidak memenuhi syarat kelompok developed, emerging, maupun frontier. OCBC Wealth Management menyebut Argentina, Bulgaria, Nigeria, dan Rusia sebagai contoh anggotanya. Stockbit menambahkan Lebanon dalam daftar tiga pasar terbesar kategori itu per 30 Juni 2026.

Bobot Indonesia dan Estimasi Arus Keluar Dana

Bisnis.com mengutip data MSCI tentang bobot Indonesia dalam indeks Emerging Markets. Bobot itu menyusut dari 1,16 persen pada 31 Desember 2025 menjadi 0,43 persen per 30 September 2026. Istilah bobot merujuk pada porsi suatu negara dalam indeks acuan investor global.

Estimasi arus modal asing keluar mencapai Rp105 triliun hingga Rp132 triliun jika penurunan status terjadi, menurut Bisnis.com. Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai penurunan langsung dari emerging market ke standalone market jarang terjadi. Menurut dia, Indonesia akan menjadi satu-satunya pasar Asia Pasifik berstatus standalone dalam kerangka MSCI.

Harry juga mencontohkan Pakistan pada 2008 dan Trinidad dan Tobago pada 2011. Kedua negara itu menjalani penurunan secara bertahap menuju standalone market.

Seorang analis dalam laporan Bisnis.com menilai sebagian besar penurunan bobot sudah terjadi. Karena itu, arus keluar dana pasif tambahan akan bertumpu pada basis yang jauh lebih kecil. Dana pasif adalah dana yang mengikuti komposisi indeks tanpa memilih saham secara aktif.

Preseden Historis dan Respons Berbagai Pihak

Tim Investment Analyst Stockbit mencatat MSCI menggelar 12 konsultasi penurunan klasifikasi pasar sejak 2006. Sebanyak 10 konsultasi berakhir dengan penurunan status, sedangkan dua lainnya berhenti tanpa penurunan. Menurut Kabar Bursa, rekam jejak itu belum menentukan keputusan akhir untuk Indonesia.

Bursa Efek Indonesia menyatakan menghormati evaluasi MSCI, tetapi akan meminta klarifikasi atas usulan tersebut, menurut Kabar Bursa. Katadata mencatat Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad menyebut MSCI tidak selalu benar pada Jumat (16/10/2026). IDX Channel melaporkan GIC dan Temasek membantah tuduhan menekan MSCI agar menurunkan status pasar saham Indonesia pada Rabu (21/10/2026). Investortrust memuat tanggapan analis asing yang menilai penyamaan pasar saham Indonesia dengan Lebanon dan Zimbabwe tidak masuk akal.

Saran Dino Patti Djalal dan Tenggat Juni 2027

Di tengah proses tersebut, Dino Patti Djalal menyampaikan serangkaian saran melalui Instagram pada Sabtu (24/10/2026), menurut CNN Indonesia. Target perbaikan skor yang ia sebut, yakni Juni 2027, berdekatan dengan batas keputusan final MSCI pada 30 Juni 2027.

Dino Patti Djalal
Dino Patti Djalal- mantan Wamenlu era Presiden SBY

Dino menekankan pentingnya sikap terbuka dalam dialog dengan MSCI. "Yakinkan MSCI dengan kesungguhan dan niat baik kita dan hindari sikap yang terkesan denial, defensif, atau arogan," tuturnya.

Ia juga meminta pemerintah menjaga kepekaan terhadap sentimen pasar. "Terapkan disiplin dan kepekaan yang tinggi terhadap sentimen pasar dalam transaksi saham. Jangan korbankan kepentingan sistemik jangka panjang hanya untuk kepentingan transaksional sesaat," kata Dino.

Pada akhirnya, proses MSCI atas pasar saham Indonesia masih berjalan dan belum menghasilkan keputusan final. Pelaku pasar, regulator, dan pemerintah menunggu hasil konsultasi hingga 30 April 2027 serta pengumuman paling lambat 30 Juni 2027.

Sumber: Data diperbarui Sabtu, 24 Oktober 2026.