First Aider Luka PsikologisFirst Aider Luka Psikologis diluncurkan Kemenkes untuk membantu remaja mengenali gejala gangguan kesehatan mental melalui pendampingan teman sebaya di sekolah.

First Aider Luka Psikologis menjadi program baru Kementerian Kesehatan untuk membantu pencegahan gangguan kesehatan mental remaja. Program ini mengajak teman sebaya memberikan pertolongan awal sebelum penanganan profesional.

First Aider Luka Psikologis resmi diperkuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebagai langkah pencegahan gangguan kesehatan mental pada remaja Indonesia. Program tersebut diterapkan di lingkungan sekolah agar teman sebaya dapat memberikan pertolongan awal ketika menemukan gejala masalah psikologis.

Psikolog Klinis Sulastry Pardede mengatakan persoalan kesehatan mental remaja perlu menjadi perhatian serius. Berdasarkan data yang dipaparkannya, satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, sementara sekitar 50 persen gangguan jiwa mulai muncul sebelum usia 14 tahun.

Kemenkes Luncurkan Program Pendampingan Teman Sebaya

Menurut Sulastry, masa remaja merupakan fase yang rentan terhadap tekanan emosional, pencarian jati diri, serta pengaruh keluarga, sekolah, dan lingkungan pergaulan. Selain itu, penggunaan media sosial membuat Generasi Z semakin rentan mengalami stres sehingga deteksi dini menjadi langkah penting.

Ia menjelaskan tanda depresi dapat berupa rasa sedih berkepanjangan, kehilangan minat beraktivitas, mudah lelah, gangguan tidur, hingga muncul pikiran bunuh diri. Karena itu, pengenalan gejala sejak dini dinilai penting agar remaja memperoleh penanganan yang tepat.

Sebagai bagian dari program tersebut, Kemenkes bersama Dharma Wanita Persatuan meluncurkan buku dan pelatihan First Aider Luka Psikologis. Program ini membekali remaja agar mampu mengenali tanda awal gangguan mental sekaligus mendampingi teman sebelum mendapatkan bantuan profesional.

Secara faktual, peluncuran program merupakan respons terhadap meningkatnya kasus kesehatan mental pada anak dan remaja. Melalui pendekatan berbasis sekolah, pemerintah berharap upaya pencegahan dapat berjalan lebih cepat sebelum kondisi psikologis berkembang menjadi lebih berat.