ISPA Kalteng, bahasa kitaISPA Kalteng mencapai 2.052 kasus pada 7-14 Agustus 2026. Kasus naik 39,2 persen saat hotspot dan asap karhutla meningkat.

ISPA Kalteng meningkat 39,2 persen di tengah aktivitas karhutla, dengan 2.052 kasus tercatat pada 7-14 Agustus 2026.

ISPA Kalteng menjadi perhatian setelah Dinas Kesehatan mencatat 2.052 kasus selama 7-14 Agustus 2026.

Peningkatan kasus terjadi saat aktivitas karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

Dinkes Kalteng mencatat tambahan 600 kasus hanya pada 11 Agustus. Sebanyak sembilan pasien harus menjalani perawatan inap.

ISPA Kalteng Naik Saat Asap Mulai Menyebar

Pada 11 Agustus, Palangka Raya mencatat kasus harian tertinggi dengan 115 kasus. Kotawaringin Barat menyusul dengan 111 kasus.

Secara keseluruhan, jumlah kasus tersebut meningkat sekitar 39,2 persen dibandingkan kondisi pada 7 Agustus.

Sementara itu, data BMKG hingga 14 Agustus mencatat 645 hotspot di Kalteng.

Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi. Jumlahnya mencapai 189 titik, disusul Kapuas dengan 114 titik.

Di sisi lain, asap mulai bergerak menuju barat laut. Kondisi berkabut asap juga muncul di Buntok dan Muara Teweh.

Jarak pandang di dua wilayah tersebut berada sekitar 5-7 kilometer.

Dinkes Perkuat Antisipasi Dampak Asap

Dinkes Kalteng memperkuat pemantauan kasus dan pelayanan kesehatan di kabupaten serta kota.

Langkah lainnya mencakup edukasi masyarakat, pembagian masker, pemantauan petugas karhutla, dan penyaluran oxygen portable.

Namun, pelaksanaan di lapangan menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan masker dan obat-obatan menjadi salah satu tantangan.

Gangguan jaringan komunikasi dan listrik turut memengaruhi pelaporan. Proses validasi data juga masih menjadi bagian dari pekerjaan petugas.

Yang perlu dicermati, Dinkes tidak langsung mengaitkan seluruh kasus ISPA dengan paparan asap karhutla.

Riza Syahputra menegaskan ISPA dapat muncul akibat berbagai faktor. Karena itu, petugas terus memantau dan memvalidasi data secara menyeluruh.

Dampaknya terhadap kualitas udara juga berbeda antarwilayah. Katingan dan Barito Selatan masuk kategori Tidak Sehat.

Enam wilayah lainnya masuk kategori Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif. Sebaliknya, Kotawaringin Barat masih berada dalam kategori Baik dengan ISPU 21.

Karena itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas luar ruangan ketika asap semakin pekat.

Selain itu, masker perlu digunakan saat berada di luar rumah. Kelompok rentan juga mendapat perhatian lebih.

Apabila muncul gangguan pernapasan atau kondisi kesehatan memburuk, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.