Bahasa Kita – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mulai memperkuat pengembangan jamu sebagai produk kesehatan sekaligus komoditas ekonomi kreatif yang dinilai memiliki peluang besar di pasar global. Dukungan tersebut mencakup penguatan merek, promosi digital, hingga perluasan akses pasar internasional bagi produk jamu Indonesia.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa jamu tidak lagi dipandang hanya sebagai warisan budaya tradisional. Menurutnya, jamu memiliki nilai ekonomi yang besar jika dikembangkan dengan pendekatan modern dan dukungan teknologi.
“Jamu bukan sekadar warisan tradisi, tapi produk ekonomi kreatif yang punya potensi besar di pasar dunia,” kata Teuku Riefky Harsya saat menerima perwakilan Dewan Jamu Indonesia (DJI) di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif di Jakarta, Rabu (20/5).
Menurutnya, pengembangan jamu membutuhkan dukungan ekosistem digital, riset, dan ilmu pengetahuan agar produk lokal mampu bersaing di pasar internasional.
Kemenekraf Fokus Perkuat Branding Jamu
Kementerian Ekonomi Kreatif menilai tantangan terbesar dalam pengembangan jamu saat ini bukan lagi pada kreativitas budaya. Yang menjadi perhatian utama justru bagaimana produk jamu dapat dikomersialisasikan secara lebih luas dan berkelanjutan.
“Kreativitas budaya kita sudah luar biasa sejak dulu, namun tantangan terbesarnya adalah komersialisasi dan monetize,” ujar Teuku Riefky Harsya.

Dalam praktiknya, pemerintah akan membantu penguatan merek atau branding produk jamu melalui berbagai platform digital. Tak hanya itu, pendampingan kurasi produk juga akan dilakukan agar produk jamu memiliki standar yang sesuai dengan kebutuhan pasar global.
Menurutnya, strategi tersebut penting agar pelaku usaha jamu mampu menangkap peluang internasional tanpa terbebani persoalan kapasitas produksi.
“Melalui ekosistem digital, kita bantu branding dan kurasi produk yang unik agar siap menangkap peluang global tanpa harus panik dalam memenuhi kapasitas produksinya,” katanya.
Promosi Jamu Indonesia Diperluas ke Pasar Dunia
Selain penguatan branding, Kementerian Ekonomi Kreatif juga akan membantu promosi jamu Indonesia ke pasar internasional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas eksistensi produk kesehatan tradisional Indonesia di tengah meningkatnya minat global terhadap produk herbal.
Di sisi lain, Dewan Jamu Indonesia terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menjaga keberlanjutan industri jamu nasional. Organisasi tersebut menghimpun pelaku usaha, peracik jamu, akademisi, peneliti, komunitas, hingga pemangku kepentingan lain yang terlibat dalam pengembangan jamu.
Yang jadi sorotan, kolaborasi antara pemerintah dan DJI juga akan diwujudkan melalui penyelenggaraan The 2nd Jamu International Conference & Expo (JICE) pada Oktober 2026.
JICE 2026 Jadi Ajang Promosi Jamu Internasional
Konferensi dan pameran internasional tersebut dirancang menjadi platform terpadu yang menggabungkan kegiatan ilmiah, pameran industri, hingga promosi budaya jamu Indonesia.
Ketua Umum DJI Daniel Tjen mengatakan pihaknya ingin terus memperkuat sinergi lintas sektor agar jamu semakin dikenal di tingkat global.
“Berangkat dari kesuksesan gelaran JICE yang pertama, kami berkomitmen untuk terus merajut seluruh pemangku kepentingan guna mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu,” kata Daniel Tjen.
Ia menambahkan dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif menjadi langkah penting dalam memperkuat agenda besar pengembangan jamu nasional.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari Kementerian Ekraf yang bersedia berjalan beriringan bersama kami untuk menyukseskan agenda besar ini,” ujarnya.
