Atalia PraratyaKritik Atalia Praratya terhadap lagu Bupati Purwakarta menyoroti lirik yang dinilai merendahkan perempuan. Saepul Bahri Binzein meminta maaf.

Kritik Atalia Praratya terhadap lagu Bupati Purwakarta menjadi sorotan setelah anggota DPR RI itu menilai lirik “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” memuat narasi yang merendahkan perempuan dan bertentangan dengan nilai budaya Sunda.

Kritik Atalia Praratya terhadap lagu ciptaan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menjadi perhatian publik. Anggota Komisi VIII DPR RI tersebut menilai lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat mengandung narasi yang mendegradasi atau merendahkan perempuan.

Pernyataan itu disampaikan Atalia melalui unggahan akun Instagram pribadinya @ataliapr pada Rabu (1/7). Dalam unggahan tersebut, ia turut menampilkan lagu yang sebelumnya diunggah Saepul Bahri Binzein pada 19 Januari 2026.

Atalia Nilai Lirik Lagu Bertentangan dengan Upaya Melawan Patriarki

Menurut Atalia, perjuangan melawan budaya patriarki seharusnya mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat, termasuk kepala daerah.

Namun, ia justru mempertanyakan munculnya karya yang dinilai menghadirkan narasi patriarkal dari seorang pejabat publik.

Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?,” kata Atalia.

Selain itu, ia mengaku kesulitan menemukan makna yang menunjukkan penghormatan terhadap perempuan dari isi lagu tersebut.

Jujur saya tidak habis pikir, se-positif apapun saya memaknai lagu ini. Saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” ungkapnya.

Budaya Sunda Dinilai Mengajarkan Nilai Penghormatan

Lebih jauh, Atalia menilai Bahasa Sunda memiliki banyak pilihan kata yang dapat menyampaikan pesan kehidupan secara santun.

Karena itu, ia mempertanyakan alasan penggunaan diksi yang menurutnya dapat dimaknai merendahkan perempuan.

Menurut Atalia, budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi.

Saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan,” katanya.

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein

Bupati Purwakarta Beri Penjelasan

Sementara itu, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein membantah anggapan bahwa lagunya ditujukan untuk menyudutkan perempuan maupun kelompok tertentu.

Ia menjelaskan karya tersebut merupakan puisi dan lagu yang ditulis pada 2020 sebagai refleksi atas perjalanan hidupnya sendiri.

Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” katanya.

Menurutnya, lirik lagu merupakan bentuk kejujuran terhadap masa lalunya sekaligus media kontemplasi spiritual dan emosional.

Meski demikian, Saepul Bahri Binzein tetap menyampaikan permohonan maaf apabila lirik lagu tersebut menimbulkan ketidaknyamanan.

Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” ujarnya.