bahasakita.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia masih berada dalam pengaruh La Niña lemah pada Februari 2026. Indikator SOI dan Niño3.4 menunjukkan anomali yang konsisten dengan kondisi tersebut. Dalam kerangka itu, potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem meningkat di berbagai wilayah, terutama Indonesia bagian timur. Data ini menjadi dasar analisis atmosfer sepekan ke depan.
BMKG menjelaskan dinamika global masih aktif. Aktivitas ini tidak berdiri sendiri. Ia berinteraksi dengan faktor regional dan lokal. Namun titik tekannya ada pada indikator global yang mengonfirmasi fase La Niña lemah.
Indikator Global: SOI dan Niño3.4
Secara faktual, Southern Oscillation Index atau SOI menunjukkan kecenderungan mendukung pola La Niña. Pada saat yang sama, anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño3.4 berada pada kategori lemah.
Mengapa La Niña Lemah Meningkatkan Hujan Lebat
La Niña identik dengan peningkatan suplai uap air di wilayah Indonesia. Kondisi ini memperkuat pembentukan awan konvektif. Dalam praktiknya, awan hujan lebih mudah tumbuh dan bertahan lebih lama.
Dengan kata lain, atmosfer memiliki kandungan kelembapan lebih tinggi. Proses kondensasi berlangsung lebih intens. Akibatnya, curah hujan meningkat.
BMKG menyebut kondisi ini masih relevan untuk periode 17-23 Februari 2026. Terutama ketika dikombinasikan dengan dinamika lain seperti MJO dan Monsun Asia. Namun analisis ini berdiri pada indikator global yang terukur.
Dampak Statistik terhadap Curah Hujan Nasional
Data curah hujan 12-16 Februari 2026 menunjukkan intensitas sangat lebat di sejumlah provinsi. Lampung mencatat 143,00mm/hari. Sulawesi Selatan mencapai 140,5mm/hari. Bangka Belitung 134,4mm/hari. Kalimantan Barat 113,7mm/hari. DI Yogyakarta 110,0mm/hari.
Angka ini bukan anomali tunggal. Ia sejalan dengan kecenderungan atmosfer basah selama Januari–Februari yang merupakan puncak musim hujan.
Untuk Februari 2026, BMKG memprediksi curah hujan berada pada kategori rendah hingga tinggi. Wilayah dengan peluang sangat tinggi meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Sementara itu, Maret 2026 diperkirakan tetap berada pada kategori menengah hingga tinggi. Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah berpotensi mengalami hujan sangat tinggi.
Artinya begini. Selama indikator La Niña lemah masih bertahan, kecenderungan atmosfer basah tetap dominan. BMKG menegaskan prakiraan akan diperbarui sesuai analisis dan data terbaru. Informasi resmi tersedia melalui bmkg.go.id dan kanal komunikasi resmi lainnya.
