bahasakita.id — Peristiwa kekerasan yang menimpa AM (16) pada Selasa (10/2/2026) di sebuah SMK swasta Surabaya bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan sebuah kegagalan kolektif dalam memahami etika terhadap penyandang disabilitas. AM, seorang siswa inklusi, diduga dikeroyok oleh lima rekan sekolahnya setelah mengalami rangkaian provokasi yang mengeksploitasi keterbatasan emosionalnya. Hal ini menunjukkan betapa rendahnya literasi empati di ruang pendidikan kita.
Dewi, bibi korban, memaparkan kronologi yang menunjukkan adanya pola intimidasi sistematis. AM dipancing dengan ejekan agar amarahnya meluap, sebuah taktik perundungan yang lazim menyasar individu dengan kebutuhan khusus. Ekskalasi konflik ini memuncak pada pengeroyokan fisik yang mengakibatkan AM harus mendapatkan intervensi medis khusus di fasilitas kesehatan jiwa.
Normalisasi Kekerasan dan Dampak Jangka Panjang
Data menunjukkan bahwa AM telah mengalami perundungan sejak masa SMP, yang menandakan adanya trauma berlanjut yang gagal diantisipasi oleh sistem pengawasan sekolah.
“Sekarang anaknya rawat inap di RS Menur sampai kurang lebih 14 harian. Dari hari Jumat kemarin. Pihak DP3A yang meminta,” jelas Dewi pada Minggu (15/2/2026). Durasi perawatan 14 hari ini menjadi indikator seriusnya dampak psikis yang dialami korban.
Langkah Litigasi sebagai Upaya Pemulihan Martabat
Keluarga AM mengambil langkah hukum formal dengan melaporkan kasus ini ke Polrestabes Surabaya melalui laporan bernomor LP/B/408/II/2026. Secara yuridis, tindakan pengeroyokan terhadap anak di bawah umur, terlebih penyandang disabilitas, memiliki konsekuensi hukum yang berat. Langkah ini diambil demi mengembalikan martabat korban dan memberikan efek jera secara struktural.
Menanggapi laporan tersebut, AKBP Melatisari selaku Kasat PPA dan PPO Polrestabes Surabaya menegaskan bahwa proses verifikasi sedang berjalan.
“Mohon waktu, kami cek dulu,” ujar Melatisari pada Minggu (15/2/2026). Penanganan kasus ini menjadi ujian bagi penegak hukum dalam memberikan rasa aman bagi kelompok inklusi di tengah masyarakat yang masih sering abai. ***
