Bahasa Kita – Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu mewajibkan seluruh dapur MBG memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan sebelum menjalankan layanan secara optimal. Salah satu syarat utama yang harus dipenuhi ialah kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi atau SLHS.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Yasman Syahrul, menegaskan sertifikat tersebut menjadi bukti bahwa proses pengolahan makanan telah sesuai ketentuan kesehatan.
Menurutnya, keberadaan SLHS penting untuk memastikan makanan yang disajikan kepada penerima Program Makan Bergizi Gratis tetap aman dikonsumsi.
“SLHS menjadi indikator bahwa dapur telah memenuhi standar higiene dan sanitasi yang ditetapkan,” ujar Yasman Syahrul.
Dapur MBG Bengkulu Masih Proses Pengajuan Sertifikat
Saat ini, proses penerbitan sertifikat masih terus berjalan di berbagai dapur MBG di Bengkulu.
Dari total 129 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG yang sudah beroperasi, sebanyak 106 dapur telah mengajukan penerbitan SLHS.
Sementara itu, sisanya masih didorong agar segera melengkapi seluruh persyaratan administrasi maupun teknis.
Dinkes Bengkulu menargetkan seluruh dapur MBG memiliki standar kesehatan yang sama. Dengan begitu, risiko gangguan kesehatan akibat makanan dapat ditekan.
Yang jadi sorotan, sertifikasi tidak hanya menilai hasil makanan siap konsumsi. Pemeriksaan dilakukan sejak tahap awal pengolahan.
Aspek Kebersihan Jadi Fokus Penilaian Dapur MBG
Yasman menjelaskan, ada sejumlah aspek yang menjadi fokus penilaian dalam penerbitan SLHS.
Penilaian mencakup kebersihan area dapur, sistem sanitasi, hingga pengelolaan limbah.
Selain itu, keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL juga menjadi bagian penting dalam pemeriksaan.
Dinkes turut mengecek tata cara penyimpanan bahan makanan dan proses pengolahannya.
Dalam praktiknya, seluruh rantai pengelolaan makanan harus memenuhi standar kesehatan.
“Kami memeriksa seluruh rantai pengelolaan makanan, mulai dari lingkungan dapur hingga makanan siap disajikan,” jelas Yasman.
Tak hanya itu, proses pengolahan bahan baku juga harus mengikuti prosedur yang berlaku agar kualitas makanan tetap terjaga.
Dapur MBG Didorong Gunakan Bahan Pangan Lokal
Selain fokus pada keamanan pangan, Dinkes Bengkulu juga mendorong pengelola dapur MBG menyusun menu bergizi seimbang.
Penggunaan bahan pangan lokal menjadi perhatian dalam pelaksanaan program tersebut.
Menurut Yasman, pemanfaatan produk lokal dapat memperkaya variasi menu makanan.
Di sisi lain, langkah itu juga membuka peluang pasar bagi petani serta pelaku usaha lokal di Bengkulu.
Artinya, program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, keberadaan dapur MBG juga diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Yang kerap luput diperhatikan, penggunaan bahan lokal dapat memperpendek rantai distribusi pangan sehingga kualitas bahan lebih terjaga.
Petugas Dapur MBG Wajib Ikut Pelatihan Resmi
Dinkes Bengkulu turut menyoroti kompetensi tenaga pengelola dapur MBG.
Setiap petugas yang terlibat dalam pengolahan makanan diwajibkan memiliki sertifikat penjamah makanan.
Sertifikat tersebut diperoleh melalui pelatihan resmi mengenai tata cara pengolahan makanan higienis dan aman.
“Petugas dapur harus memahami cara mengolah makanan yang higienis dan aman,” kata Yasman.
Menurutnya, pemahaman tenaga dapur sangat penting untuk menjaga kualitas makanan yang dikonsumsi masyarakat.
Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu memastikan pembinaan dan pengawasan akan terus dilakukan terhadap seluruh dapur MBG.
Langkah itu dilakukan agar pelaksanaan program makan bergizi gratis berjalan sesuai standar kesehatan yang telah ditetapkan.
