Bahasa Kita – Polemik LCC 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat 2026 terus menjadi perhatian publik setelah muncul rencana pertandingan ulang atau rematch final tingkat provinsi. Keputusan tersebut memicu penolakan dari dua sekolah yang sebelumnya menjadi finalis kompetisi, yakni SMAN 1 Sambas dan SMAN 1 Pontianak.
LCC 4 Pilar MPR RI sebelumnya menjadi sorotan setelah keputusan dewan juri dinilai tidak konsisten dalam pemberian nilai kepada peserta lomba.
Dalam praktiknya, polemik tersebut ramai diperbincangkan di media sosial hingga mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah.
Yang menarik, meski perlombaan hendak diulang dengan format baru dan pergantian juri, kedua sekolah justru kompak menolak rematch.
Awal Polemik LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar
Kontroversi bermula saat Regu C dari SMAN 1 Pontianak mendapat pengurangan nilai minus lima karena dianggap salah menjawab pertanyaan mengenai lembaga yang dipertimbangkan DPR saat membentuk anggota BPK.
Namun pada saat bersamaan, Regu B dari SMAN 1 Sambas diberi kesempatan menjawab pertanyaan yang sama.
Di sisi lain, jawaban tersebut justru mendapatkan nilai plus 10 dari dewan juri.
Keputusan itu kemudian diprotes salah satu peserta dari SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra.
Ia mempertanyakan konsistensi penilaian juri selama perlombaan berlangsung.
Meski begitu, dewan juri tetap mempertahankan keputusan yang telah diberikan kepada masing-masing peserta.
Dalam perkembangan selanjutnya, muncul rencana untuk mengulang final LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar 2026 sebagai bentuk evaluasi penyelenggaraan lomba.
Pengulangan tersebut disebut akan menggunakan sistem baru dan seluruh juri akan diganti.
SMAN 1 Sambas Tolak Pertandingan Ulang
Rencana rematch kemudian mendapat penolakan dari SMAN 1 Sambas melalui pernyataan resmi yang diunggah di akun Instagram sekolah.
Pihak sekolah menyampaikan delapan poin sikap terkait polemik yang berkembang usai perlombaan selesai digelar.
Salah satu poin utama adalah penolakan terhadap pertandingan ulang tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

“Berdasarkan komitmen bersama dewan guru beserta staf TU SMAN 1 Sambas dan peserta LCC 4 Pilar MPR RI 2026 beserta orangtua mereka untuk menjaga marwah pendidikan dan kesehatan mental/psikis murid dalam lingkungan yang sehat dan bermartabat, kami menyampaikan sikap sebagai berikut,” tulis SMAN 1 Sambas.
Sekolah tersebut juga menyatakan seluruh peserta telah mengikuti perlombaan sesuai aturan yang ditetapkan panitia.
“Menghormati setiap keputusan resmi yang telah ditetapkan sebagai bagian dari mekanisme penyelenggaraan lomba. Meyakini bahwa peserta LCC 4 Pilar dari SMAN 1 Sambas telah berkompetisi sesuai tata tertib yang telah ditetapkan panitia dan disepakati seluruh peserta lomba,” lanjut pernyataan tersebut.
Tak hanya itu, pihak sekolah juga membantah tuduhan adanya praktik kecurangan dan pengaturan kemenangan.
“Membantah keras tuduhan kecurangan, penyuapan, tindak nepotisme, dan prasangka setting kemenangan yang dituduhkan kepada SMAN 1 Sambas,” tulis pihak sekolah.
SMAN 1 Pontianak Juga Menolak Rematch
Sebelumnya, SMAN 1 Pontianak lebih dulu menyatakan penolakan terhadap rencana pertandingan ulang.
Sekolah tersebut memilih menghormati hasil akhir perlombaan meski sempat mempertanyakan keputusan juri saat final berlangsung.
Sementara itu, SMAN 1 Sambas meminta pihak penyelenggara memulihkan nama baik sekolah dan memberikan jaminan keamanan psikologis kepada para siswa.
“SMAN 1 Sambas menolak pertandingan final ulang tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Kami mendesak pihak penyelenggara untuk memulihkan nama baik SMAN 1 Sambas dan memberikan jaminan keamanan terkait psikis murid sebelum kami mewakili Kalbar pada kegiatan LCC 4 Pilar MPR RI 2026 di tingkat nasional,” sambung pernyataan sekolah.
Diketahui, SMAN 1 Sambas keluar sebagai juara LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar 2026 dan akan mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional.
