Sembilan orang tewas dan 16 lainnya terluka dalam dugaan serangan udara Arab Saudi terhadap sebuah rumah di Provinsi Saada, Yaman utara, pada Oktober 2026. Kantor berita Saba yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan peristiwa itu ketika pertempuran dalam perang saudara Yaman kian meningkat.
AFP melansir laporan Saba, kantor berita yang berafiliasi dengan kelompok Houthi yang didukung Iran. Saba menyebut serangan tersebut menghantam sebuah rumah di Provinsi Saada. Lembaga itu menambahkan bahwa jumlah korban masih bisa bertambah.
Rincian Serangan Udara Arab Saudi di Yaman Utara
Saba merinci dampak serangan itu dalam laporan singkatnya. “Serangan tersebut menyebabkan sembilan orang gugur dan 16 lainnya terluka, sebagian besar perempuan dan anak-anak,” demikian bunyi laporan Saba.
Klaim tersebut bersumber dari media yang berafiliasi dengan Houthi. Karena itu, sumber independen belum mengonfirmasi angka korban. Data yang tersedia juga belum memuat tanggapan resmi dari koalisi pimpinan Arab Saudi.
Saada berada di Yaman utara dan selama ini dikenal sebagai salah satu kubu kuat Houthi. Pada awal Oktober, Houthi menuduh Arab Saudi menembakkan rudal ke jaringan telekomunikasi di provinsi itu, menurut laporan Berita RTM. Pihak berwenang kedua kubu saat itu belum mengeluarkan pernyataan mengenai insiden tersebut.
Eskalasi Konflik Sejak Juli
Koalisi pimpinan Arab Saudi telah melancarkan ratusan serangan di Yaman. Koalisi itu bertindak untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional. Operasi tersebut berjalan sejak pertempuran kembali berkobar dalam perang saudara yang telah lama berlangsung.
Konflik itu sempat mereda selama bertahun-tahun. Pertempuran kembali pecah pada Juli dan makin intensif setelah Houthi merebut wilayah pesisir Laut Merah bulan lalu. Sejak itu, intensitas serangan dari kedua pihak terus meningkat.
Stasiun televisi Al-Masirah yang terhubung dengan Houthi melaporkan 26 serangan udara Saudi ke Sanaa pada awal Oktober. Houthi juga menuduh Riyadh melancarkan 94 serangan ke wilayah yang mereka kuasai dalam 24 jam, menurut Berita RTM.
Serangan Balasan Houthi ke Wilayah Saudi
Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi berulang kali menyerang sasaran di Arab Saudi. Sasaran itu mencakup kapal di Laut Merah, fasilitas minyak, dan Bandara Internasional Riyadh. Laporan menyebut 13 orang tewas dalam satu serangan di bandara tersebut pekan lalu.
Otoritas Arab Saudi juga menyampaikan dampak dari sisi mereka. Menurut Berita RTM, sebuah rudal Houthi merusak sekolah di Najran, kawasan dekat perbatasan Yaman. Informasi itu muncul pada awal Oktober.
Houthi juga mengumumkan blokade terhadap pelayaran Arab Saudi di Laut Merah sejak pertempuran kembali pecah, menurut Berita RTM. Kelompok itu turut menyerang infrastruktur minyak dan Riyadh dalam periode yang sama.
Houthi menyatakan serangan Saudi sejak awal September telah menewaskan puluhan orang. Pihak independen belum dapat memverifikasi klaim itu. Pada September, Houthi juga menuduh Arab Saudi menyerang sebuah pasar di Taiz, Yaman barat daya.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebut serangan di Taiz tidak adil dan agresif serta berikrar akan ada akibatnya, menurut Berita Harian. Menurut klaim Houthi, hampir 50 orang tewas atau terluka dalam insiden itu. Houthi tidak merinci jumlah korban secara pasti.
Konteks bagi Pembaca di Indonesia
Perang saudara Yaman mempertemukan Houthi dengan pemerintah yang diakui secara internasional. Arab Saudi memimpin koalisi yang mendukung pemerintah tersebut, sedangkan Houthi mendapat dukungan Iran, sebagaimana dilaporkan Saba dan AFP. Konflik yang berawal dari pemberontakan Houthi itu telah berlangsung bertahun-tahun dan memicu krisis kemanusiaan yang luas.
Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini patut dicermati karena Laut Merah menjadi salah satu jalur pelayaran terpenting dunia. Jalur itu menghubungkan Terusan Suez dengan Samudra Hindia. Gangguan pelayaran di sana dapat memengaruhi rantai pasok perdagangan global.
Dugaan serangan udara Arab Saudi di Saada menambah daftar insiden yang menimbulkan korban sipil di Yaman. Angka korban masih bersumber dari klaim Houthi, dan sumber independen belum memverifikasinya. Perkembangan berikutnya bergantung pada pernyataan resmi kedua pihak serta laporan lembaga yang berwenang.